Archive for the antara titik dan koma Category

PERAHU

Posted in antara titik dan koma on Januari 29, 2008 by asharjunandar

Ketika setengah mengeluh badanku
Pada tulang, akhirnya pintu ini
Mengalah juga kubukakan
Dan lampu, secerah senyum matahari.
Oh, matakukah yang telah salah ?
Di kamar ini mengapa perahu
Diduduk bersila bersama pejaman mata
“Selamat datang kembali
ke Dunia tubuhmu yang telanjang”
Sambutnya. Pelan
Ketika suaranya membuka pintu mata.
“Kau perahu siapa? Rasanya, tadi aku memesan
Pizza. ?”
“Aku juga ingin makan pizza. Lambungku sudah
Puluhan abad menahan lapar dosa.
Sejak air mata manusia tidak lagi menjadi samudra”
Tapi kau perahu siapa ?
“Kemarilah. Dan duduk di sampingku.
Akan kuceritakan masa dimana tiang-tiang layarku
Jadi batang-batang sejarah,
Bagi daun-daun cemara yang digugurkan
Angin, seperti angina juga mengantarkan
Sauhku, ke kamar ini
Ke sinilah, jangan bimbang.
Bimbang adalah lapar yang tak pernah terkenyangkan
Meski semesta ini berubah jadi hamparan jamuan
Aku: adalah perahu segala manusia,
Yang pada hari itu, gunung-gunung, kepalanya
Sujud diperintahkan, kemudian gelombang
Yang pendiam, di beri sayap dan kaki oleh tuhan
Melebihi elang yang menjangkau awan
Hari itu, Aku: adalah rumah angin
Bagi jiwa-jiwa yang dingin
Maka layarku jadi dinding-dinding
Yang menutup rapat segala jendela-pintu
Geladakku adalah dipan-dipan yang dinaungi beringin
Seperti pengelana padang pasir, menunggu matahari pergi
Akulah segala belulang kaki.
Belulang yang menegakkan tubuh mereka berdiri
Aku adalah udara yang memasuki rongga dada mereka
Tanpa permisi:
Dan mereka didalam tubuhku. Bertemu mimpi
Duduklah di sampingku.
Padamu: akan tuturkan
Bagaimana benteng-benteng dan istana itu
Di samaratakan seperti telungkupnya telapak tangan
Segeralah bersila dan matamu pejamkan
Dan biarkan. Lampu itu kembali padam
Kamar ini. Adalah sebuah kerinduan
Yang sudah teramat lelah dan jauh berjalan”

hakcipta pada asharjunandar

Iklan

Rambut, Sisir dan Landak

Posted in antara titik dan koma on Januari 17, 2008 by asharjunandar

Menyisir,

Semua manusia,
Laki, perempuan
Tua, muda,
Kanak-kanak, remaja
Yang berambut,
Dan kenal sisir,
Selalu menyisir

Karena ada rambut,
Maka ada sisir,
Entah dari plastik,
Besi, atau jari sendiri

Di depan atau bukan kaca
Di air atau di udara
Semua manusia berakal
Suka menyisir rambutnya
Terkadang tanpa sadar

Sedang sendiri
Diam-diam
Karena malu sedepa
Atau terang-terangan
Kepada cahaya,

Manusia menduga,
Belum genap harinya
Bila sekali saja
Belum menyisir rambutnya

Tapi rambut yang mana?

Bulu kaki adalah rambut kaki
Bulu tangan adalah rambut tangan
Bulu ketiak adalah rambut ketiak
Bulu dada adalah rambut dada
Bulu kepala adalah rambut kepala
Bulu anu adalah rambut rahasia

Tapi menyisir,
Perlukah berfikir?

Akh, manusia
Tidak kenalkan kau
Dengan makhluk
Kecil yang jalannya
Lambat,
Dan hanya tahu satu arah
Bernama Landak?

16012008

hakcipta pada asharjunandar

PEJALAN KAKI

Posted in antara titik dan koma on Januari 3, 2008 by asharjunandar

Di jalan ini, aku berjalan
Dipinggir jalan
Karena memang harus dari pinggirlah
Si pejalan kaki, berjalan

Tahu angin menyeret lembab
Dan panas yang menyibak rambut
Juga membangkitkan debu dengan lembut
Angin padaku berkata: “Tutuplah mulut
Dan teruslah melangkah”

Seperti desiran
Panas pula adalah perawan
Yang melambaikan tangan
Dari balik Taman,
Menorehkan sesuatu
Yang menyuruh dada
Berkata pada kancing baju:
“Sedikit longgarlah, agar aku
Lebih digelembungkan udara”

Dan aku terus melangkah
Seperti debu yang dicampuri
Tangan dingin
Yang merapatkan kaki
Lebih dekat, satu sama lain

Sesuatu yang selalu berpasangan
Saling merindu bila berjauhan

Kurapatkan tangan
Menyentuh hati yang sendiri,
Yang masih terus mencari
Seperti terik yang mengalah
Pada rembang

Terkadang aku gamang
Sesekali bersandar
Di Tiang-tiang besi, pagar jalanan

Yang menyemburkan dugaan
Di fikiran:
Mungkinkah tuhan juga sedang
Merindukan seseorang?
Seperti rembang yang tak pernah
Bertemu pelangi
Selalu di situ bersemayam jasad sepi

Aku masih melangkah sendiri
Mendekati malam,
Yang sudah lama ditinggal pagi

Mungkinkah tuhan juga sedang
Merindukan seseorang,
Yang parasnya melebihi
Putri bidadari ?

Atau mungkin juga aku
Bertakdir awan ?
Yang hanya bisa luruh

Yang dikenalkan seorang ibu zaman
Kepada anaknya, sebagai hujan ?

Aku masih berjalan
Seperti yang jauh di luar sana
Di seberang waktu, lama
Masih juga sendiri berjalan

Seiring, bergandengan tangan

Dari sebuah Kamar: antara Titik dan Koma
Selasa, 31122007, Rawamangun

hakcipta pada asharjunandar

Bukankah Kita Sepakat Perjalanan Ini: Adalah Malam ?

Posted in antara titik dan koma on Januari 3, 2008 by asharjunandar

Membuka dan menyimak kembali
Album foto bulu matamu di laci kelingking jiwaku:
Adalah memotret unggukan pucuk-pucuk cemara kemarau
Dari sebuah kursi kosong kereta

Gerbong terakhir turut saja pada semburan asap lokomotifnya
Kala bibir roda-roda besi berpasangan
Mengecup bibir dingin, kulit dingin rel kereta
Dari satu stasiun yang kita sepakati bermula
Ke bunyi pluit stasiun berikutnya

Malam yang menunggangi jepretan-jepretan kamera

Aku lelah, katamu. Maka kau rebah di bahu kiri kereta
Membuang jauh bola mata ke luar jendela
Seolah gelapku tidak boleh lagi mencicipi bola mata cahaya

Kunang-kunang yang parau kakinya menjepit bulan

Bukankah kita sepakat: perjalanan ini adalah malam ?

Dari sebuah Kamar: antara Titik dan Koma
Rabu, 02012008. Rawamangun

hakcipta pada asharjunandar

Kau Adalah Titik Nadir Kesunyian

Posted in antara titik dan koma on Januari 2, 2008 by asharjunandar

Di badan lautan rimba raya
Di satu malam yang paling malam
Kala langit terpejam
Dan milyaran ton atom-atom hujan
menggempurnya
Dengan ringkikan kuda-kuda
Halilintar putih perkasa
Sekonyong-konyong telingamu tersandung
Dan matanya menoleh ke arah gerombolan
Para kesatria
Lutut daunmu bergetar
Sebelum belulang ranting membungkukkan
Punggung
Menyerembabkan wajah ke tanah
Hitam merah
Begitu perkasa para kesatria itu
Sampai-sampai kau lupakan namamu
Ketika mereka bertanya: Siapa engkau ?
Kaupun bertanya lirih pada bulu kudumu
Siapakah aku ?
Tak membiarkan detik menunggu
Para kesatira berkuda itu
Berlalu
Dan kau terus menyeruduk bumi
Yang merah
Yang bergerak senantiasa
Dalam diamnya yang juga perkasa
Seakan segala diam membandang
Di gendang telinga
Serupa derap-derap langkah kuda-kuda
Para kesatria
Yang menjauh, menjauh, dan terus menjauh
Menganakkan dahak riuh tawa
Di ruang tubuhmu yang terus mengaga
Berguguran
Siapakah aku ? Siapakah aku ?

Dari sebuah Kamar: antara Titik dan Koma
Selasa, 31122007, Rawamangun

hakcipta pada asharjunandar

BULAN

Posted in antara titik dan koma on Desember 19, 2007 by asharjunandar

:asharjunandar

/1/
Ini penyaliban pertama ?
Bulan cantik
Bulan gema
Bulan gemulai
Bulan lusuh
Bulan anggun
Bulan unggun
Bulan kelak
Bulan keparak
Bulan sendirian menggerutu di kepala semesta
Kakinya pudar berputar-putar. Menawafi lubang kabbah bundar
Cabang hawa berbuah habil-kobil dari batang daging adam
Yang hangat dan rindang. Akar-akarnya menjalar
Keseluruh mata angin merambat
Di ladang langit awan
Di temali-jangkar lautan
Di pucuk-pucuk rimba satwa
Di senyap rahasia kaldera
Di batu-batu Pionix singgahsana raja
Di gedung-gedung bermata-mata
Di badan-badan ular beton berkaki seribu juta
Di Legenda Titanic kutub utara
Akarnya berdenyut
Hidup dan jadi sel-sel amuba

/2/
Aku juga Siti Hawa. Berhidung Siti Arabia. Berbibir Siti Indo. Berlidah Siti Athena. Bertelinga Siti Ghandi. Berjemari Siti Elizabeth. Berpinggul Siti Moskow. Berkulit Siti Shinto. Berbetis Siti Mao
Kecantikanku mengurat-akar bangsa cicit Adam-Hawa yang menyentuh air, bumi, dan udara
Ini penyaliban pertama ?

/3/
Matahari adalah kejantanan
Berhak mengatur giliran jaga punggawa musim di negara-negara benua
Menitah serbuk sari bunga-bunga
Mengomando ayunan fotosintesa
Mencatat musim-musim berbunga beruang madu
Menata fase kepompong ke kupu-kupu
Membangunkan kutub utara
Dia adalah raja jantung jantung-jantung dunia
Dan dia bukanlah kekasihku”
Ini penyaliban pertama ?

/4/
Bulan gula
Bulan jingga
Bulan purnama
Bulan madu
Bulan satu
Bulan rindu

Lihatlah namaku di beranda rasa. Selalu gula bercampur daun teh dan air hangat di gelas pagi yang retak dan dingin. Lihatlah namaku di beranda warna. Selalu jingga di kelopak-kelopak bunga seikat dari kekasih untuk ranjang rindu. Lihatlah namaku di beranda mata. Selalu inspirasi penyair-penyair purba mencumbu larik-larik sajak dengan daging pena. Lihatlah namaku di beranda ranjang. Selalu dua nama kelamin saling pagut usai berikrar nama tuhan. Lihatlah namaku di pintu depan newyork times. Selalu diperdebatkan profesor-profesor tebal muka tumpul makna. Lihatlah namaku di lidah tebing putus asa. Selalu cerita layla-maznun dihembuskan angin di sela-sela temali gantungan, sesaat bergoyang-goyang dan besok jadi headline utama harian ibu kota
Lihatlah tingkah laku akar-akar rahim batang Adam-Hawa. Selalu mereka lumat hara nama-namaku yang lezat dan bermanfaat
Ini penyaliban pertama ?

/5/
Bulan gairah
Bulan lusuh
Bulan rebah
Bulan kumuh
Adakah sapu tangan ungu atau merah jambu
Untuk liur hidungku ?
Rasanya aku terserang flu

Rawamangun,16122207.
Dari sebuah kamar : Antara titik dan koma
hakcipta pada asharjunandar

KATA

Posted in antara titik dan koma on Desember 18, 2007 by asharjunandar

Kata-kata kata-kata kata-kata. Sudah mengacaubalaukan dunia

Rawamangun, 15122007

hakcipta pada asharjunandar