Archive for the Dari Sebuah Kamar Category

Lebih dari 170 Tahun Perjalanan 170 ton Air Mata Ini

Posted in Dari Sebuah Kamar on Januari 28, 2009 by asharjunandar

museum-fatahillah1170 ton, entah seberat itu bobot air mata yang hendak kalian

antarkan kepada kami dari seberang benua,

lewat peta, sempat kami perlihatkan kepada anak-anak kami,

kalian di sana, khusuk berdoa, di bawah malam,

di atas tanah yang terus digemburkan matahari

 

170 ton, lebih lagi

tanpa sempat mematok skala, karena yang tersisa dalam

benak kami hanya jengkal dan depa, sepuluh jari

yang meraup pasir, batu, liat tanah merah,

lebih  dari 170 ton air mata yang hendak kalian antarkan kepada kami

 

air mata-air mata itu air mata kalian, 170 derajat celcius panasnya

setelah sampai ke puing-puing kota kami, 170 tahun lebih

derajat panas ini telah merebus Aqsa yang kami cintai

 

170 ton gadam telah menumbuk-numbuki dinding-dinding rumah kami

dan 170 ton air mata yang kalian antarkan ini

menguap saja dihisap pori-pori pung-puing kota kami

 

tapi biarlah, dalam malam yang tak seorangpun di antara kalian

mendengar,

170 lebih bintang telah kami nyalakan di mimpi-mipi anak kami

lebih dari 170 tahun perjalanan 170 ton air mata ini  

Iklan

Kembali Mencari Jalan Pulang , 4

Posted in Dari Sebuah Kamar on Mei 8, 2008 by asharjunandar

Entah siapa yang merawat kamar itu

Kamar yang kau tinggalkan waktu dulu merantau

Dan ketika kau sempatkan kakimu

Memasuki derit pintunya

Kau temui ranjang yang sama

Sprei yang sama

Gorden yang sama

Gambar batman-robin yang masih juga sama

Sama lapuknya

 

Di pojok ada almari tua

Dan ketika kau buka, buku-buku waktu sekolah

Masih rapi tertata

 

Kaupun beranjak mendapati cermin

Sebuah vas dengan taplak dan bunga plastik sederhana

Tapi wanginya,

Entah aroma tangan siapa

Yang saban pagi diam-diam selalu menyiramnya

 

Entah siapa yang merawat kamar itu,

Tapi bila beruntung tanganmu

Mendapati laci meja

Dan satu buku harian yang nyaris

Habis halamannya

Di sana, hanya ada jejeran tanggal, bulan

Dan tahun

Yang tiap detik kau ingat sebagai deadline kerja

 

: Anakanda telah 15 tahun 7 bulan

  23 hari, sejak terakhir kali menutup pintu

  Kamar ini,

 

Kalimat itu tertera jelas dengan tulisan

Ejaan lama

 

Itupun kalau matamu masih dengan jelas

Bisa membaca

  

hakcipta pada asharjunandar

Orang-OrangKitabSuci

Posted in Dari Sebuah Kamar on April 11, 2008 by asharjunandar

Orang-OrangKitabSuci (1)
orang-orang itulah, orang-orang itu,
orang-orang yang bangun,
dengan bulu mata dibelakang tengkuknya
bantalnya menepuk busa pundaknya
selepas santun mengelus bulu kaki
mereka meraba-raba,
masihkah mata yang semalam terpejam
masih utuh di rongga telurnya?
Pulogadung, 11042008 10:56

Orang-OrangKitabSuci (2)
Lantai itu bercorak persegi
dengan sisi sama panjang
dan siku tertata rapi
Didatangkan dari pedalaman Afrika
Konon, katanya di angkut kapal
pedangang Belanda,

Ada waktu yang tercatat di halaman
ingatan seseorang,
sebelum orang-orang itulah, orang-orang itu,
orang-orang yang bangun,
dengan bulu mata dibelakang tengkuknya
menghadap barat di dalam kamar-mandi
Lantai itu,
hanya boleh dibasahi embun
yang ditebar udara,

dari pintu, ke pintu
siku-siku itu kembali melahirkan
siku-siku yang tegap menjulang
dengan nol derajat,
dari utara tuhan.
Pulogadung, 11042008 11:05

Orang-OrangKitabSuci (3)
Mari angkat dua tangan dan tundukkan kepala
seserhana lekuk kurma di mangkuk
pagi ini,
orang-orang yang bangun,
kemudian jongkok di kamar mandi
lalu bersila di atas pandan
tegakkan. tegakkan rusuk belakang
dan ketika mulai mengunyah
jangan sampai pecah kata-kata
yang dirantai di lingkar dada tuhan.
tuan.
Pulogadung, 11042008 11:24

Kembali Mencari Jalan Pulang

Posted in Dari Sebuah Kamar on April 8, 2008 by asharjunandar

Kembali Mencari Jalan Pulang , 1

Ada baiknya, sebelum lelap

Kembali kau kepada kanak-kakak

Mencuci dua kaki dan tangan

Gosok gigi dan cuci muka

 

Sebelum mati lampu

Pejamkan matamu

Angkat dua tanganmu

Dan kau berdoa

 

Siapa tahu, malam itu kau mujur

Tuhan sedang berbaik hati padamu

  

Kembali Mencari Jalan Pulang , 6

Kalau kau dengar ratapan sajadah ini

Yang bertanya padamu:

 

Mengapa kau tega memisahkannya

Dengan karibnya yang dulu sama-sama

Melewati jalan becek ke surau

Waktu kau masih di desa dulu?

 

Kira-kira: Apakah jawab-Mu?

 

Kembali Mencari Jalan Pulang , 8

Ingatkah kau, berapakah jumlah larangan yang sudah disebutkan

Ayahmu?

Dan berapa kali sudah dia mengatakannya padamu?

Atau

Ingatkah kau berapakah jumlah larangan yang sudah kau langgar

Dan berapa kali sudah kau melanggar?

Atau

Tahukah kau berapa jumlah doa ibumu kepadamu?

Dan berapa kali kau mengaminkan sendiri doamu

Untukmu?

 

 

Rawamangun, Senin dinihari, 07042008

 

Dari Atas Lubang Kloset

Posted in Dari Sebuah Kamar on Februari 2, 2008 by asharjunandar

Menatap langit-langit
Di kamar kecil
Dari atas lubang kloset
Adalah
DOA yang mengundang dingin
Masuk lewat pintu ubun-ubun
Ke kepala
Terus ke jantung
Setengah asap rokok berbisik:
Lihatlah ke bawah
Yang menunduk terkulai
Di sela selangkangan
Akan menuntunmu
Menemukan sebuah rahasia
Terdalam
Dimana dingin yang selanjutnya
Berperan
Menekan sesuatu
Yang sudah harus diasingkan

hakcipta pada asharjunandar

Padamu, Mereka hanya bilah papan berayun-ayun

Posted in Dari Sebuah Kamar on Februari 2, 2008 by asharjunandar

Padamu, Mereka hanya bilah papan berayun-ayun
Seraya menjulurkan dua tangan
Pada temali kiri dan kanan
Bersama ancang-ancang
Merasa denganmu Kaki terjuntai Di awang-awang
Mungkin inilah sebabnya kau biarkan
Rerumputan merimbun di tanah-tanah Taman
Dan angin terus saja kau tiupkan

hakcipta  pada asharjunandar

Di Pasar Ini Kalian Telah MencurangiKu

Posted in Dari Sebuah Kamar on Februari 2, 2008 by asharjunandar

Di Pasar ini Kalian telah mencurangi
Securung-curangnya kalian
Menawar harga jubah malam atas semua kelam
Malah, membeli selimut sepi
Setelah penjualnya menurunkan tinggi
Sebab terlampau dingin yang Kukirimkan
Kalianpun kembali ke pasar ini
Tambah memborong beludru sunyi
Setiba di rumah, kalian himpun
Segala yang hidup dan mati dari kalian
Untuk berdoa bersama-sama mata terpejam
Menyanjung-nyanjung pagi dan bulan
Tunjukilah kami tunjukilah kami
Dengan sajak-sajak Tuan ini
Tapi sunyi yang makin dingin
Malah bertambah angin
Kalian panik di telapak teka-teki suara-suara
Sesungguhnya diantara kita: siapa yang pendosa?
Sedang sunyi yang dihembuskan angin dingin
Terus saja lirih sampai malam tiba

hakcipta pada asharjunandar