Archive for the Dari Sebuah Kamar Category

Mari Membaca Novel

Posted in Dari Sebuah Kamar on Februari 1, 2008 by asharjunandar

Mari membaca novel
sambil
Mereguk secangkir kopi
Habis selembar,
teguk sekali
Terkapar sepuluh halaman
Selunjurkan kaki
Tiga puluh berlalu
Rubah posisi
Sudah setengah jalan
Kembali ke kopi
tangan menghampiri
Mari membaca novel sambil
Melentangkan badan
Tiga per empat telah dilalui
Dari si tokoh
Siapa yang duluan mati
Bunuh diri ?

hakcipta pada asharjunandar

Iklan

Untuk Yang Impian Usai

Posted in Dari Sebuah Kamar on Januari 22, 2008 by asharjunandar

: Wayan Sunarta

Membacamu pertama kali
Berupa kemudahan menghapal
Dan ketika kuulang lagi
Dari pembuka sampai
Halaman 131,
Sebelum fotomu di belakangnya
Yang sedikit mengarah ke samping

(Mungkin membandingkan bukit Venus
Dengan planet matahari
Yang bukan planet lagi),

Aku bayangkan, bayang seorang anak
Yang seharusnya menarik-ulur
Benang layangan itu di pantai
Dan si orang dewasa itulah
Yang berdiri matanya
Menghadap laut di depan

Fotomu, di halaman belakang
Sedikit mengarah ke samping
Mungkin posisi lelapmu
Atas syukur kepada dengkur
Setidaknya, sebelum impian usai

Dan sunyimu
Agaknya sudah cukup mesra
Bersandar di batu candi
Ataukah itu memang prasasti?

hakcipta pada asharjunandar

Dinding

Posted in Dari Sebuah Kamar on Januari 18, 2008 by asharjunandar

APA yang salah dengan dinding?
APA karena dia diam saja
Dan tak mau disuruh kemana-mana?

APA yang salah dengan dinding?
Sedang acap kali orang membangun rumah
Selalu saja tukang dan siempunya juga
Memperhatikan wajahnya,

Wajah yang dingin,
Tanpa senyum kepada angin
Atau malam,
Tidak juga menangis kepada hujan
Atau siang,

Dan manusia terus saja berlindung
Di balik wajahnya,
Mereka yang bekerja
Mereka yang bercinta
Mereka yang bertengkar
Mereka yang sadar Dan sakit jiwa,

Manusia terus saja berlindung
Di balik wajahnya,

Karena dinding adalah pita perekam suara
Yang paling setia dan paling terpercaya
16012008

hakcipta pada asharjunandar

Teleskop Perempuan

Posted in Dari Sebuah Kamar on Januari 18, 2008 by asharjunandar

Berbicara tentang perempuan
Adalah berbicara tentang dua sisi
Keping mata uang,
Yang dengan atau tanpa mata terpejam
Melemparkannya ke udara,

Beberapa detik di tubuh mengambang
Adalah rahasia dari jaman ke jaman

Dimana gerangan
Kita Bisa berjumpa dengan tonggak purba?

Maka berduyun-duyun manusia
Yang merekat cabang urat,
Dan terus tumbuh di batang selangkangnya
Memperbesar tiap bulu yang tumbuh
Di pemukiman tubuh perempuan

Tapi adakah fikiran teleskop yang sanggup
Menerjemahkan teori struktur bulan?

Berbicara tentang perempuan
Adalah berbicara tentang dua sisi
Keping mata uang yang sedang terbang

Tidak ada yang lebih masuk akal
Selain pemusatan mata ke bawah
Satu titik fokus di sajadah tanah

16012008

hakcipta pada asharjunandar

Meski Tirai Layar Menepi

Posted in Dari Sebuah Kamar on Januari 17, 2008 by asharjunandar

Sering kau kuusir agar pergi,
Tapi sering pula sesuatu yang membiak
Di perut darahku, melaparkanmu
Seperti candu di pucuk tembakau

Sebandel masa kanak-kanakku
Yang tak terhitung lagi marah ibu
Dan memar di wajah dan tubuhku,
Pukulanmu jauh lebih tangguh
Dari yang kukira

Perjanjian kitab di atas kepala
Adalah hutang darah
Yang mengintai datangnya
Si pejalan jauh dari seberang Sana

Dan deretan angka-angka di layar kalkulator
Terus kau sulap jadi aktor kata-kata,
Yang berdialog lincah,
Yang tanpa konteks naskah,
Yang jumpalitan walau badan basah

Gerangan, APA judul drama,
Yang sedang kita pentaskan?

Kau dan aku: adalah perenungan Goenawan
“Tuhan dan Hal-Hal yang Tidak Selesai”

Meski tirai telah menepi,
Penonton lama beranjak pergi

16012008

hakcipta pada asharjunandar

Buku-Buku Nakal Dan Pinus-Cemara di Lembah Otakku

Posted in Dari Sebuah Kamar on Januari 17, 2008 by asharjunandar

Untuk berhenti Membaca ini
Bagiku sudah menyandu

Maka biarkan saja, pustaka yang diperutnya
Berjingkrak-jingkrak buku-buku nakal,
Terang lampu yang lihai menipu,
Mencuri merah kemaluan sumbu lilin,
Dan siang yang mengusir bingar,
Atau malam yang terseok-seok
Memikul senyap,
Membabat gundul pinus-cemara
Di lereng dan lembah otakku

Bukankah bumi, langit, lautan,
Dan segala yang dalam gerak
Dan penghulu diam,
Diperkecil waktu dan jarak?

Maka biarkan saja kawanan ular
Membopong telur-telurnya
Mengerang di pusara
Harimau yang menasbihkan dirinya
Raja, menyiutkan tanduk-tanduk rusa
Dan perawan lembab yang mencuci
Jenjang kakinya dari dosa
Dengan Lumpur hara moyang bumi
Di telaga sunyi
Menanggalkan kebaya dedaunannya

Buku-buku yang berjingkrak nakal
Kegiranganlah

Dalam bahak yang membahana
Masgul mengukur sudut lampu jalan,
Skala beton dan jembatan,
Rel kereta api jadi ular terbang,

Dan pokok pohon adalah gedung menjulang
Menyiutkan pucuk puncak dan kepundan

Terang lampu, siang dan malam
Jadi lagu-lagu dan denting piano
Mozart di panggung-panggung
Klasik Kyito
Atau patung dan ornament museum
Di jantung Roma Kuno
Tiktok jam,
Kemana kicauan kenari
Mengungsikan sarang?

12012008
hakcipta pada asharjunandar

Judul Yang Haram Untuk Dituliskan

Posted in Dari Sebuah Kamar, Stick Bilyard n Vodka on Januari 16, 2008 by asharjunandar

APA yang bisa kita pinjam dari Tengkulak cinta?

Sitor mengatakan: Biksu Tak Berjubah
Yang bermakna: Ketelanjangan

Akan berhimpun gelak tawa tuak
Pada gigi matahari dan bulan
Awan pagi dan hujan malam

Dan tubuh kita: terperas sprema
Tanpa saringan vagina

Apa yang bisa kita pinjam dari Tengkulak cinta?

Judul yang Haram Untuk Dituliskan

15012008

hakcipta pada asharjunandar