Archive for the kakikakiangin Category

Seperti Wajah-Mu yang Puisi

Posted in kakikakiangin on Januari 22, 2008 by asharjunandar

hari dimana semua orang bersimpuh
di atas altar sunyi
tangan malam membentang
dan semesta luruh
di dadanya

Yang satu itu tiba juga
membawa tembakau
ke ruas beranda kayuku

harus kau lihat
dengan matamu yang kesurupan

aku mulai lihai meracik serbuk tembakau
sedikit daun teh halus
secarik kecil kertas mika
dan sepercik nyala api
jadi abu kenikmatanku,
wajahmu

dengan laju nafas saling mendahului
hari ketika semua orang bersimpuh
kau menemuiku,
mengulurkan tanganmu
meraihku
mendekapku
namun yang terbakar ini
di mulut dada
terus menyala

harus kau lihat dengan besi pupilmu
yang karatan

sebuah rasa dan nama
yang bersembunyi di ujung kertas ini
akhirnya, kan puisi

yang landai
melambai
menggapai-gapai

seperti hari
dimana semua orang bersimpuh
di atas altar sunyi

hakcipta pada asharjunandar

Iklan

Atau Mungkin yang Telah Ada Adalah Mungkin yang Sudah Gamang

Posted in kakikakiangin on Januari 21, 2008 by asharjunandar

Hah, di kapal kayu tua ini,
Mimpi ke pulau
Larut bersama buih yang menguap

Berapapun jumlah buih
Sebanyak kerlip kunang-kunang
Di tebing sungai hatimu,
Gambut yang tidak dililit gangang dan lumut
Butir sebutir dagingnya hanyut
Disayap pisau air bercampur pasir

Seperti simpul kayu-kayu badan kapal ini
Yang merengang,
Diperkosa asin gelombang,
Pulau yang segunduk daratan
Terus saja bergeser oleh patahan-patahan
Dan sesuatu yang maha dahsyat
dari ke dalaman laut
Bergerak pelan, ke permukaan
Selanjutnya, menabuh gendang
Karang-karang perawan

Sauh kapal ini adalah sauh nuh
Geladaknya, kubang menganga
Dan neon kemudi renta yang sudah bungkuk
Dibungkukkan jangkar-jangkar malam,
Menjaring udang-udang sinyal
Yang dibawa terbang
Kaki-kaki camar menara

Di kapal tua ini, jingga
Lakon dialog dua kulit bibir kita
Hanya akan jadi tontonan hiu dan paus saja

Maka hentikanlah gema-gema di gua otakmu,
Dan, bermain layang-layang gelombanglah
Di pantai-pantai lapang,

Mungkin benang belut bisa ditilap dari gudang
Yang tak berlubang

Mungkin tatal kayu kapal tua ini
Masih bisa dicerna mutiara kerang

Atau memang mungkin yang sudah ada
Adalah mungkin yang pula telah gamang

hakcipta pada asharjunandar

Kota Angin

Posted in kakikakiangin on Januari 16, 2008 by asharjunandar

Kota Angin (1)
mungkin mereka dayang-dayang surga
yang diasingkan
mungkin bantal-bantal dan selimut mereka,
terlarang

mungkin malam membiarkan dirinya
tenggelam
mungkin bangkar usang mengarang

mungkin bulu-bulu betis kaki mereka
berjuntai bara,
menuruni anak-anak tangga semesta,
rebah di kolongnya

mungkin pasrah awan adalah arak
yang disilang
mungkin mendung ialah matari kelam

mungkin kubersila seraya mendekap mata
mungkin di atas angin memang ada kota

Kota Angin (2)
aku di kota angin, jingga
dinding-dinding rumah
di sini
terbuat dari kaca
: rama-rama menjelma
bunga sutera
beraneka warna kelopak, merona
membiak susu
di tubuh taman mereka

tanggal, terderai
di mana-mana

aku di kota angin, jingga
di istana yang tanpa raja

Kota Angin (3)
julur mereka bergelantung di kelingking pintu
dua tangan daun yang mendekap keranda senja
berbuah anggur pelangi muda: “masuklah kembara”

terhampar permadani hijau menudungi sudut-sudut dangau
hingga ufuk jiwa yang meminta :
dingin di sini kian kental melambaikan riak-riak dada indah

sedikit biru, dibasahi cahaya bulan ramah
berayun riang di pulsar langit-langit rumah malam

bila ispn bukumu tak terlampir di daftar pustaka
bagaimana menggaris bawahi penerbit, juga penulisnya?
sedang jendela, sepanjang bintang terbuka

untuk pengantar tidur, dongeng siapa
yang mesti kubaca, jingga?

Kota Angin (4)
pada satu rumah, masuk juga aku
akhirnya,
rumah mungil beruang cahaya

bidara itu memungut kaki hatiku
bergetar menggelepar,

tercelup di sofa awan berbusa

dinding-dinding marmer persegi
berukir puisi,
dibiaskan mata neon
yang malu-malu

garis-garis sketsa putih bernyawa
meliuk-liuk lincah
di sela-sela bulu angsa

Kota Angin (5)
di kota itu, aku menjabat erat lengan dosa

luka menganga:
sesuatu yang terus saja kau bungkam

terpasung:
matahari tak kunjung tampak jejaknya

Kota Angin (6)
ilalang yang tumbuh, sealaminya
jangkrik yang menggirik, sesukanya
angin yang melintas, sekenanya
akar yang sembunyi, selamanya
lumpur yang mengering, sendirinya
batu yang ricuh, sesukanya
kaki cinta yang berjalan, seadanya
seperti biasa saja

hakcipta pada asharjunandar

Enam Bulan Usai Instalasimu Luruh

Posted in kakikakiangin on Januari 14, 2008 by asharjunandar

enam bulan usai instalasimu luruh
enam daun purnama, pena mengais kata
pada ratapan lilin di bibir mejadi liat merah,

kau rebahkan tiang-tiangmu
aku terhimpit di bawahnya

bulan neisya menalangi gelapku
kalau bukan; mungkin melati yosi atau aroma davita
bisa saja kelopak titi; atau bahkan siapa saja

adalah daun teh yang bercampur gula
untuk dahaga lidah kalimat buta

peduli apa aku
seperti kau membekap tiang-tiangmu
aku mengerut di sana

manusia yang kadang menendang nama
pula rayuan semilir cinta
di lipatan kertas surat merah jambu tua
 

hakcipta pada asharjunandar

Di Bawah Sajadah Angin

Posted in kakikakiangin on Januari 11, 2008 by asharjunandar

mungkin kau merindu di atasnya ?
mungkin kau bertanya kepada yang berjalan
dan diam
mungkin kau pinta sandaran kepala
pada kasur malam ?
mungkin ruas jarimu jemu mengira
zikir potret silam
mungkin lidahmu kerontang
melafaskannya ?
mungkin fikiranmu segera harus padamkan lampu
mungkin saja di bawah sajadah angin itu
dingin,
memang sudah kesemutan, menganga?
mungkin mesti kau tanam tubuh jantungmu
di liangnya
mungkin dalam, sedalam-dalamnya

hakcipta pada asharjunandar

Dari Ketinggian Skala Peta Jadi Begitu Ringan

Posted in kakikakiangin on Januari 9, 2008 by asharjunandar

aku latah memanjati batang angka-angka
di cabang rantau statistika mengenalkan namanya
dari ketinggian skala peta jadi begitu ringan
meski perbandingan juga adalah distribusi peluang
di rerimbunan ini, aku seperti ulat
yang membaca segala gerak dengan hikmat
dan lambat
tidak ada rintik hujan, jingga
awan-awan di lengkung langit
hanya berganti warna saja
tangan angin menggaruk gatalku, jingga
dan bila kantuk, aku bebas menutup tirai mata
di mana saja
di malam atau siang, jingga
selalu meruah air di sungai cahaya
untuk menyucikan badan atau menikam dahaga
dari ketinggian
skala peta jadi begitu ringan

hakcipta pada asharjunandar

Ini Bukanlah Pagi Yang Biasa Lagi

Posted in kakikakiangin on Januari 8, 2008 by asharjunandar

Akhirnya kaupun bersila
Berhadap-hadapan dengan karang
Ini bukanlah pagi yang biasa lagi
Seperti Albatros yang biasanya mengunjungi
Seperti kau mempertanyakan pada karang:
Tangguhkah kulitmu ditusuk lembing
Badai matahari
Juga puting beliung angin berduri ?

Ini bukanlah pagi yang biasa lagi

hakcipta pada asharjunandar