Archive for the PelacurMatahari Category

Hari Telah Terkelupas di Pelepah Jarimu

Posted in PelacurMatahari on Oktober 22, 2008 by asharjunandar

Hari telah terkelupas di pelepah jarimu.

Jari yang mulai melepuh, menjinjing

Butir demi butir nasi yang datang,

Kemudian menangis di keempat selanya

 

Ibu jarinya memang tidak setara dengan

Kuku kelingking, tapi dia yang paling lincah

Melopat dari satu telunjuk ke jari tengah

Yang sedikit pemarah

 

Marah yang bukan lagi menahan lapar biasa

 

Keempat jari itu bisa saling diam sama lain

Selain sebutir nasi yang terselip di masing kuku

Keempatnya lalu menekup seperti mangkuk

 

Di sore yang tak mau pergi

Dari langit belum pernah turun hujan nasi

 

Hari telah terkelupas di pelepah jarimu.

Jari yang mulai melepuh

Seperti keriput pembuluh yang masih

Menyadarkanmu

 

 

PelacurMatahari [12]

Posted in PelacurMatahari on April 29, 2008 by asharjunandar

Percayalah kau lebih dari sekedar dibutuhkan untuk stabilitas

Denyut nadi satu negara,

Ketika penjajah dulu belum anjak kaki, kau jadi agen komunikasi

Dan semasa pengumunan proklamasi,

Kau terus mengelilingi lingkaran pasukan dengan bedil

Di celananya

Pembangunan inipun, kau diundang ke hotel-hotel berbintang

Usai jamuan makan negara

Sebagai lambang keramahtamahan dan keeksotisan

Seperti kata pertapa: “Yang disentuh kebenaran, selalu mencari

Jalan pulang, kembali ke timur”

Ke arah matahari menampakkan badan

Seperti lukisan Mona Lisa,

Banyak yang menyela, tapi yang melepas dahaga dari guci sastra

Memborong duplikasinya

Percayalah kau lebih dari sekedar dibutuhkan untuk penegasan

Hipotesa

Bahwa manusia memang masih benar berjalan di atas rel

Kereta budaya manusia, sebenarnya

 

 

Rawamangun, Sabtu Malam, 2604008

hakcipta pada asharjunandar

Fientje de Feniks

Posted in PelacurMatahari on April 25, 2008 by asharjunandar

Itulah kutukan yang terlupakan

Seperti uap yang hendak ringkus di badan guci

Kemudian dibanting ke lantai

 

Itulah kutukan yang berpindah dari kuluman

Paruh-paruh burung

Dari dahan ke dahan

 

Ketika Jumat kesumat diikat penanggalan 17 Mei 1912

Pintu Air Kali Baru jadi messiah

Yang membacakan

Bahwa dosa adalah nyawa terbelenggu pasung dunia

 

Yang membuncit seperti lipatan danging perut

Dari karung beras, kutukan itu merambah

Ruang sidang,

 

Ketika nyawa itu meronta oleh cekikan dua

Tangan Gemser, Sang Elit Concordia

 

Di ranjang, bagian himpunan kamar

Yang selalu dibangun kekakuan

Sisi kubus desahan

Dan singgahsana  birahi jantan

Suara malaikat yang meminjam bibir Roana

Selalu menyimpan belati tuhan

 

Hujatlah mereka

Sesuka hatimu, hujatlah!

 

Akan datang kutukan itu padamu:

Dari gambar seseorang yang berhidung mancung

Berambut hitam panjang

Dengan tatapan kosong tenang ke depan

 

Ke tapal waktu yang selalu akan selalu bersaksi

Pada ayat-ayat kebenaran

 

Meski terburai belulang kaki tangan

 

 

Rawamangun, rabu Malam, 24042008

hakcipta pada asharjunandar

Surga Hitam Kramat Tunggak [3]

Posted in PelacurMatahari on April 23, 2008 by asharjunandar

Hingga tibalah messiah itu dengan agama barunya,

Seorang perempuan

Ketika mengedarkan lembaran kitab biru

Jemarinya lembut terulur seperti cahaya bulan

Ada tujuh kolom mati di sana

Bagi yang bisa membaca, kondom memorial kitab itu

Bernama

Kami tidak bisa membaca kata-kata yang disusun

Pengarang aksara

Tapi dari Pengarang kehidupan

Rangkaian kata manakah yang tak bisa kami baca?

 

Ada tiga stiker yang menjadi kepala suratnya

Bila pengunjung surga yang datang dan hendak bercinta

Kami rekatkan lembar surat hijau dan kuning

Jika dia membaca nama kitab itu

Bila kekasih kamilah yang menuangkan cinta

Ke ranjang, lembar surat merah hati kami terakan

Begitulah ajaran, yang katanya, jika kami patuh

Kami akan tetap berumur panjang dan kami tak akan

Seperti kaum Nuh yang melubangi perahu nabi tuhan

Tapi bukankah kamar kami ini surga

Dan malam-selama lampu padam,

Bukankah masih tetap isyarat bagi keabadian?

hakcipta pada asharjunandar

SURGA HITAM KRAMAT TUNGGAK [1]

Posted in PelacurMatahari on April 18, 2008 by asharjunandar

Untuk sampai ke surga kami, orang-orang harus berkendara
Jalan kaki, bisa saja sebenarnya
Toh, di surga kami, derajat kebaikan diukur deretan angka nol
Di saku belakang manusia

Malaikat di sini bersagam pentungan
Wajahnya lebih galak dari Malik-nya tuhan
Di pintu timur dan barat, orang-orang akan antri
Sesuai nomor kedatangan ajalnya

Di sepanjang jalan yang berbunga debu berjejer toko dan pasar
Dimana malam ditasbihkan sebagai ke abadian

Kamar-kamar kami berjejer rapi
Seperti ajaran geometri
Dan kata tidak di sini dibenamkan kepalanya oleh cakar-cakar
Harga,
Berbanding lurus dengan paras tubuh kami

Siapa saja datanglah,
Akan kau peras anggur-anggur langsung dari pokoknya

PelacurMatahari [11]

Posted in PelacurMatahari on April 16, 2008 by asharjunandar

Setelah selir, gundik, pelacur, kupu-kupu malam, PSK, pecun, jablay

Berikutnya, Akan kau panggil APA lagi kami?

 

hakcipta pada asharjunandar

Sang Pagan

Posted in PelacurMatahari on April 10, 2008 by asharjunandar

Sang Pagan, 1

Mereka membuat seolah-olah rimba ini penuh ranjau

Tepiannya dilingkari tebing-tebing terjal

Dan kemarau katanya, masihlah sangat panjang

Menurut perkiraan pracuaca,

Mereka bilang rimba ini lebih mirip Padang Karautan

Seorang dewi pernah dikutuk Sang Batara

Lalu dibuang dari kayangan

Kemudian titisannya

Jadi bocah, empu para raja jawa berikutnya,

Dan berikutnya adalah penyemburan darah

Dari desis Keris yang katanya murca

 

Mereka membuat seolah-olah rimba ini adalah telur neraka

Seseorang akan mengeraminya

Dan akan menetas dan bernafaslah segala penyaliban

Kecuali takdir berkata lain

 

Maka mereka berduyung-duyung ke luar dari rumah

Di hari-hari libur yang disakralkan istana

Mereka lalu turun ke rimba ini

Seperti banci tanpa tips ditinggalkan pelanggannya

Mereka membawa apa saja ditangannya,

Senapan, kapak, ketapel, pentungan, pisau, parang

Gergaji, tank bahkan pesawat pemusnah

Mereka ingin menghancurkan rimba ini,

Rimba yang sesungguhnya terus membirahi

Di semak-semak dada mereka sendiri  

 

Mungkin keris itu, belumlah benar-benar murca

Mungkin lumut sudah menjalari kamar mandi istana

 

 

Sang Pagan, 2

Kata mereka dosa itu tampak di pandangan wajahmu

Maka, kutatap sekali lagi raut itu,

Dan harus kuakui tak kutemukan apa-apa di sana

Selain garis-garis samar seperti peta

Yang belum sepenuhnya selesai

Mungkin malam yang terlalu cepat datang

Tapi kulihat lagi,

Di sana tak ada jatah airmata untuk malam

Sepenuhnya malam bagi pandangan itu pertanda tapal

Bahwa sehabis titik karang yang melengkung

Debur ombak tentulah penyambung

Dan pandangan itu, sepertinya sudah lihai berenang

Meski tak selincah ikan

Tapi air garam, tentunya jodoh yang paling tepat

Bagi insang

 

Rawamangun, balapsepeda 3 – 85, Rabu malam, 09042008