Archive for the ProfesorNol Category

Karena Kau Percaya Pada Musim

Posted in ProfesorNol on April 22, 2008 by asharjunandar

Yang tidak pernah berhenti bekerja adalah angin

Maka pada sekujur kulitmu dan tonjolan

Yang melintang,

Kau lihat darah yang kemerah-merahan

 

Pada dingin yang mencengkram, kau rasakan hangat

Yang menghangatkan

Adalah dia, angin di dadamu yang sedang diam

 

Maka kau hitung cuaca

Karena kau percaya pada musim

Seperti pergantian angin

Yang telah pergi itu, pasti datang kembali

Dia yang bekerja dan tidak akan pernah berhenti

 

Sebagaimana seseorang yang meminta angin di hatimu

Yang lama, Dan memang telah meyakini

 

 

Rawamangun, Senin Malam, 21042008

Al-Quran:  Fushshilat: 08

 hakcipta pada asharjunandar

 

 

 

Iklan

Kau Harus Tetap Berkata

Posted in ProfesorNol on April 21, 2008 by asharjunandar

Tapi kau harus tetap berkata kepada mereka

Meski pada akhirnya, telingamu sendirilah

Yang memperlebar lubang udaranya

 

Begitulah, gelombang yang mengalir dari mulutmu

Telah diliputi cahaya angkasa

Sebagaimana semut diilhamkan bermusyawarah

Merekapun duduk melingkar

Di kedalaman gua

Serupa burung yang menghuni keluasan langit

Gerakan sayapnya yang ke atas-bawah

Membuatnya sanggup menukik

 

Karena itulah suaramu pada satu kitab mengendap

Dan orang-orang yang kepalanya menunduk

Seraya kaki bersila

Merasakan salwa adalah ibu dari hujan

Dan tetesan air selalu menyempurnakan

Ikatan senyawa kehidupan

 

Karena itulah kau harus tetap berkata kepada mereka

Ada istana kaca bagi mata-mata yang membaca

Dan anggur hitam

Bagi lidah-lidah yang  berkarib dengan malam

 

 

Rawamangun, Sabtu malam, 19042008

Al-Quran: Fushshilat, 06

hakcipta pada asharjunandar

Yang Lembut Bernyanyi di Telinga

Posted in ProfesorNol on April 21, 2008 by asharjunandar

Suaramu lebih sering senyap dan terus mengalir

Siapapun yang berkata dan kulihat gerakan bibirnya

Kurasa kaulah yang lembut menyentuh telinga

 

Meski itu pisau, kuterima kata-kata

Yang pasti membuatku bahagia

Kau tak akan menyayat kulitku tanpa membawa obatnya

 

Kurasa, memang hanya kaulah yang lembut

Bernyanyi di telinga

 

Rawamangun, Sabtu malam, 19042008

Al-Quran: Fushshilat, 04

hakcipta pada asharjunandar

 

 

 

 

Di Atas Jembatan Kota Intan

Posted in ProfesorNol on April 1, 2008 by asharjunandar

Menatapmu dengan mata kaki seperti jejeran kayu-kayu tak bidang
Namun panjang di ketinggian 5 meter dari wajah tanah
Kau diam dan mengalir saja dengan warna kecoklatan pekat
Sampah dan kelontong bekas lain yang dileparkan ibu-ibu paruh baya
Dari jendela dapurnya
Kau masih diam setelah melewati satu beringin kurus yang diam
Dan tak bisa kemana-mana
Angin membantunya menyusulmu dengan menggugurkan dedaunan
Dedaunan kau angkut pula di gerobak arusmu
Yang entah menyimpan berapa milyar gelombang
Seorang lalu acuh tak acuh membuang puntung tembakau murahan
Kau pungut puntung dan masih terus berjalan dalam diam
Aku mencatat kata demi kata yang meluncur dari mulut seorang teman
Yang akan kujadikan catatan kaki di bawah diary ini;
Mungkin tidak, mungkin juga iya
: Ini adalah jembatan kota intan, namanya
Bisa berlipat, seperti gunting mungkin
Bila keadaan genting dan satu sampan melilin
Entah sudah berapa juta sampan atau bahkan kapal kayu tua
Yang meleleh,
Dan juga entah mengangkut apa di lambungnya
Zaman dan musim selalu jadi penjaga merahasia

Dan entah berapa puluh ratus tahun sejak awal perjalananmu bermula
Pendopo-pendopo kayu yang mirip joglo jogja
Berjejer terpaku di tepian
Dengan mata lurus kaku seakan retina hendak keluar dari rongganya
Menggunjingimu
Menyerapahi bau busukmu yang entah terbuat dari adonan apa
Tapi pantaslah nama jalan di bantaranmu
Yang berjejer berhadap-hadapan badan dengan jembatan kerucut ini
Bergelar jalan tiang bendera
Kurasakan perahan darah manusia-manusia yang telah tiada
Kembali rekah aromanya di udara
Hanya untuk menaikkan selembar kain dua warna
Merah, katamu berani
Putih, katamu suci

Dan aku sedikit masih sedikit gamang berdiri di jembatan ini
Tapi, kutahu harus segera kucari peta dimana kau pasti
Mencium muara
Sebelum malam, aku sudah harus meneguk cocacola
Di satu teras luas bangunan kota tua
Dimana dulu, kata teman itu juga telah terjadi penggantungan
Seorang penyamun kawakan
Rawamangun, Senin Malam 31032008, ProfesorNol dan Kaisar Tanpa Istana

hakcipta pada asharjunandar