Archive for the rajawaliarok Category

Rukunlah 10 Jari, jemariku

Posted in rajawaliarok on November 14, 2008 by asharjunandar


rukunlah sepuluh jariku
rukunlah dengan otak-rasa
yang bersemayam di tempurung  kepala
dan barisan sumsum saraf belakangku

yang luruh,
seperti deret foiller
menguap dari balik pori-pori leher

tuhan lama telah bekerja lama
di luar dunia lama kita,
merancang, merakit, menyatukan, membinasakan,
dengan sistim mencipta,

seperti bunda Maria nebula

rukunlah sepuluh jariku
rukunlah dengan denyut-denyut
yang mendengung-jerit di dasar corong telingaku

berhikmatlah kepada penggalian tanah
kelahiran jasad nisan berikutnya

tubuh dada yang menyusui kembali
lengking tangis bayi jiwaku

Rukunlah sepuluh jari,jemariku

Pulang

Posted in rajawaliarok on November 7, 2008 by asharjunandar

margaretandhelen-128

Pulanglah, bila sudah harus pulang,

Karena malam,

Hari yang gelap,

Sebab bulan setengah canggung tergelantung

 

Akan tetap ada suara yang bertanya:

“Siapa?”

yang menggodamu untuk menoleh

ke belakang,

 

Dan langkahmu terhenti.

 

“Kemana aku pulang, ibu?

Kemana aku mencari uban rambutmu

Yang seriuh pasar terjatuh?”

 

Pulanglah, bila sudah harus pulang,

Karena malam,

Hari yang gelap,

Sebab bintang terlalu ramai tunjuk tangan

 

Dalam malu-malu asap

 

Akan tetap ada kata yang tak jadi patah

Di dalam benak,

Telinga terus saja waspada

 

“Kemana aku pulang, ibu?

Kemana aku mencari pejaman mata

Yang dititipkan telapak tanganmu dulu

Di kedua kelopak mataku?”

 

Pulanglah, bila sudah harus pulang,

Karena malam,

Hari yang gelap,

Dan jejangkrik, bersahutan terus dalam terjaga

 

 

Sepetik sajak dari novel Perburuan

Pramoedia Ananta Toer

Rantai

Posted in rajawaliarok on November 6, 2008 by asharjunandar

Dulu dan sekarang,

 

Rantai apa yang bisa kita kencangkan

ke batang leher ini

Selain rantai anjing yang telah mati

dan membusuk dagingnya

Di usus belatung,

Gerombolan penjahat kecil,

Yang terinjak, kala kaki waktu terus berjalan,

Terkadang tertatih, tersandung terkadang

 

Yang terludah,

Di atas batu-batu

Yang tajam, tumpul

 

Di tampar kemarau, dibentak hujan

 

Dulu dan sekarang,

Dan yang akan datang, seperti gugurnya

Daun-daun

 

Yang berguguran

Dirantai musim yang tiba

 

Sekarang

 

 

Sepetik sajak dari novel Perburuan Pramoedia Ananta Toer

khuldi, 1

Posted in rajawaliarok on Oktober 29, 2008 by asharjunandar

Tanpa masa lalu luka dan darah,

Manusia bukanlah makhluk sejarah

 

Kepada Para-Para

Posted in rajawaliarok on Oktober 27, 2008 by asharjunandar

Dalam mencipta, apalah yang telah dirugikan

Selain waktu yang ditarik kembali dari belakang

Kembali ke depan, dan orang-orang yang merasa terhibur

Serempak bertepuk tangan di depan panggung pertunjukan

 

Kita dibesarkan dalam berbagai iklan yang terus berlari

Berlari ke balik tirai yang telah pucat dan terkoyak

Beberapa orang saja yang melinting asap di pinggiran

Di sudut yang tak terjangkau pencahayaan lampu

Menekur tunduk dalam gelap

Seakan tak rela menyerah pada kenyataan yang mempertanyakan

Apa lagi selanjutnya, selain besok denting gelas beradu garpu

Dan dialog yang tidak pernah tersipu malu

 

Untuk mau kembali. Lagi diucapkan. Lagi direnungkan

Menjelang pagi yang mulai kehilangan temaram

 

Dan belulang, tak lagi merasai dingin yang biasanya

Menghujam.

 

Menghujam kita, dengan pertanyaan-pertanyaan

Siapa yang terhibur, dan mengapa kita menumpahkan darah

Dan memperlebar nganga luka pada kesenian

Yang sudah sendiri, renta dan kesepian?

Subsitusi Kosong

Posted in rajawaliarok on Oktober 24, 2008 by asharjunandar

Subsitusi Kosong

Detik inilah Nan, yang tak terganti. Oleh apapun yang pernah mampu mengganti. Oleh uang yang nolnya beranak pinak deret ukur sekalipun, oleh perempuan yang fatwa ahli agama, detik berikutnya adalah bidadari surga,

 

Detik inilah yang tidak tersubsitusi variabel segenap himpunan semestapun, yang pun sekalipun dihaluskan proses limit ke-pun yang paling pun..

 

Detik dimana airmata kita luruh secara bersamaan, saat kau dan aku berhadap-hadapan dengan masa depan yang cibirnya selalu mencibirkan, seinchi darah dalam aliran..

 

Kau dan aku perjuangan jutaan sel mani, dan juga kelak satu sel telur pula yang mutlak berhak mengikat kaki ekornya, di kantung sulbi ini.

 

Detik inilah Nan, yang tak terganti. Detik yang menyadarkan kesadaran tertinggi. Bahwa kau dan aku adalah ciptaan yang mencipta tanpa terikat dengan unsur di luar sistem tubuh kita,

  

Mentranslasikan Sepasang Nama

Posted in rajawaliarok on Oktober 23, 2008 by asharjunandar

Mentranslasikan Sepasang Nama

Orang-orang selalu sibuk di pasar baru. Terlalu sibuk untuk memperhatikan kita yang termangu duduk di emperan toko memperhatikan mereka.

 

Sebuah kerumunan. Pengembara yang mempercayakan hidupnya pada goresan-goresan kaligrafi. Kau dan aku hendak mengabadikan nama kecil kita di selembar kertas dengan jaminan tak ada ongkos pulang lagi di saku.

 

Orang-orang yang selalu sibuk tidak pernah berusaha berjejer rapi. Selalu dikejutkan oleh sesuatu yang baru, seperti kau dan aku.

 

Ketakjuban. Bagaimana pena dan tangan itu begitu lincah mentranslasikan ejaan nama latin kita, ke dalam tulisan arab?, sesuatu yang sukar dan tak akrab.

 

Sementara yang mengepul di udara, bukanlah butiran pasir,

Melainkan debu yang mendesir….seperti terusir.