Archive for the Muhasyabah-Puisi Category

Buah Zakar Belalang di Bola Mata Kupu-Kupu

Posted in Muhasyabah-Puisi on Juli 15, 2008 by asharjunandar

Sejak pertama kali ditemukan peradaban manusia kuno di berbagai belahan dunia, baik itu di Mesir, di Cina, di Afrika, sampai di belahan benua Amerika dan Asia,  kelompok manusia pertama telah menggunakan perlambang sebagai bagian dari bahasa untuk menjalin komunikasi di antara mereka.

 

Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari wahana komunikasi, kebiasaan ini berkembang terus mengikuti perkembanganbiakan anak manusia hingga kepada kita sekarang ini, terutama dalam mencipta karya sastra (puisi, cerpen atau novel, umumnya).

 

Berbagai objek alam tidak lepas dari teropong percobaan  pengarang sebagai perlambang, termasuk perangkat tubuh manusia. Memang, sebagian besar penggiat sastra masih memanfaatkan komponen alam di luar tubuhnya sebagai objek perlambang. Namun tubuh manusia juga sebagai himpunan bagian dari himpunan semesta alam, memiliki hak untuk menjadi objek perlambang, apatah itu anggota tubuh yang tampak ataupun anggota tubuh yang memang sengaja disembunyikan.

 

Seorang penggiat sastra layaknya seorang musafir yang sedang melakukan pengelanaan diri, ke luar dari satu tempat menuju tempat yang lain. Pengelanaan ini tidak akan pernah berhenti sampai dia menemukan tempat tujuan akhirnya, yang dalam hal ini, manusia sebagai mahkluk tuhan yang berbudaya, akan mencapai tujuannya ketika kematian tiba.  Di muka bumi ini, kematianlah yang menjadi ujung pencarian manusia.

 

Dalam rangka pencarian inilah, seorang pengelana sah-sah saja menemui berbagai tempat yang ingin dikunjunginya. Apakah tempat itu memang mengandung marabahaya atau tempat itu kebetulan merupakan tempat yang aman, damai-sentosa.

 

Adalah sifat dasar makhluk apapun mencari tempat aman. Seorang pengelana yang memiliki sifat ini akan selalu mencari dan melalui rute dan tempat yang aman-aman saja untuk mencapai tempat tujuan akhirnya. Namun jangan lupa, lain lubuk tentulah lain ikannya. Meskipun sama-sama menyandang predikat musafir, pengelana yang satu dengan pengelana yang lain, tentu terdapat perbedaan dalam hal karakteristik rute jalan dan tempat persinggahannya.

 

Bila diibaratkan rute dan tempat-tempat yang disinggahi pengelana ini sebagai objek perlambang yang digunakan pengarang sebagai wadah bahasanya, tentulah objek perlambang ini juga jadi satu hal yang berbeda-beda adanya.

 

Kuantitas dalam keseragaman, terutama pengangkatan objek perlambang ketika mengusung tema yang nyaris sama, menjadikan sebuah karya  menjadi pasaran.  Siklus daur hidupnya dimata pembaca atau penikmat sastra tentulah menjadi lebih singkat, teramat singkat. Terutama bagi penikmat-penikmat sastra serius.

 

Pengusungan tema tentang ketuhanan (dengan segala macam embel-embelnya) masih menjadi primadona dalam gengre karya sastra apapun. Karena tuhan itu sendiri sesuatu yang abstrak, tidak terjangkau indrawi namun dapat dirasakan kehadirannya.

 

Dalam puisi khususnya, penggunaan perlambang untuk mencapai hakikat tuhan, pada saat sekarang ini, hanya dengan mengandalkan materi perlambang yang sudah umum telah mencuatkan titik  jenuh berkepanjangan sebagian besar orang.  

 

Lihat saja, dalam sehari, ratusan bahkan ribuan puisi yang tercipta, yang intinya mencari hakikat ketuhanan dengan penggunaan objek perlambang seperti “noda hitam, kegelapan malam, jemari kasih sayang, pintu-Mu”   sudah terlalu umum dan terlalu sering didengar. Akibatnya, puisi itu dianggap kamuflase, basi atau bahkan membuat kita malas membacanya. Bisikan-bisikan lirik dalam bait puisi seperti ini, misalnya:

 

Tunjukilah Aku, Tuhanku

Sudah terlalu banyak noda hitam yang kucerna

Dalam hidup ini, silih berganti, datang dan pergi

Aku masih sendiri di kegelapan malam ini

 

Tuhan,  karena akulah hamba-Mu, maka aku datang bersimpuh

Bukakanlah pintu air-Mu bagiku, yang dahaga akan sentuhan

Jemari kasih sayang-Mu.

 

Hingga terang adalah terang

Dan segenap gelap kembali terang

 

Bagi sebagian orang yang awam karya sastra, mungkin saja penggalan puisi di atas menjadi penggalan puisi yang indah baginya. Tapi bagaimana dengan penikmat sastra serius yang diserang penyakit dahaga makna yang terus dan terus ingin dipuaskan dengan kualitas sastra yang lebih mendalam lagi?  Masihkah mereka dapat menerima penggalan sajak tersebut sebagai sebuah karya sastra yang berkualitas?

 

Nah, disinilah timbul dilema persfektif sastra. Bermutu atau tidak bermutunya karya sastra, menjadi hal yang subjektif bagi kebanyakan kasus. Dan berpulang kembali kepada lumbung hikmah yang telah disimpan dan diserap sel-sel saraf perasa si pembaca sendiri selama proses perjalanan hidupnya.

 

Dimanapun dan kapanpun, adalah minoritas dari mayoritas penggiat sastra yang berani merambah daerah objek perlambang yang “dianggap terlarang” sebagai sarana bahasanya dalam berkarya. Tentunya, ini berpulang kembali kepada sifat mendasar manusia tadi (mencari rute dan tempat aman, atau merambah segala rimba raya alam semesta, termasuk sarang-sarang yang bergelantungan di tubuhnya).

 

Berbagai nilai yang sudah terlanjur menjadi dogma di masyarakat tertentu dan sudah menjelma menjadi rantai tatanan yang dianggap telah disepakati bersama oleh segenap komponen masyarakat menjadi tali gantungan bagi minoritas penggiat sastra yang mengambil rute dan tempat lain sebagai tempat persinggahannya. Apatah lagi, rute itu adalah rute birahi dan tempat persinggahan itu adalah bagian vital tubuh manusia.

 

Kenapa ?

 

Karena komponen itu adalah komponen perlambang yang sudah dianggap menjadi sebuah kesepakatan oleh sebagian besar orang dalam masyarakat sebagai komponen tersembunyi. 

 

Ketika seorang pengarang mencari jalur dan tempat berbeda dengan menggunakan alat vital tubuh manusia sebagai bahan perlambang bahasanya dalam menghasilkan  karya, sekonyong-konyong kaum mayoritas masyarakat tadi mencapnya sebagai sebuah penyimpangan. 

 

Tapi salahkah para pengelana sastra minoritas ini?

 

Ketika kita dihadapkan pada satu karya sastra yang berbasis objek perlambang alat vital tubuh manusia, yang perlu diingat adalah sebuah pepatah sederhana yang sudah demikian mendarah daging di batok otak kita, sampai-sampai kita melupakannya. Pepatah yang mengatakan “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat”.

 

Karya sastra yang menggunakan komponen alat vital manusia sebagai objek perlambang, tentulah memiliki banyak pintu untuk kita memasuki maknanya. Dan ketika berbicara pintu dan upaya memasukinya inilah, pepatah tadi berguna.

 

Bahwa pembaca dengan kedangkalan hikmahnya, akan memandang objek perlambang tersebut sebagai objek itu apa adanya. Sedangkan pembaca yang sudah mencapai tingkat pemahaman yang melebihi rata-rata dapat melihat objek itu sebagai perlambang pintu untuk memasuki satu ruang yang lebih dalam lagi, ruang yang lebih luas, bahkan tidak bertepi, seperti ruang semesta raya ini, sehingga pada akhirnya dia menyadari keberadaan dirinya sendiri ketika bercermin pada cermin perlambang itu. Bahwa dia hanya setitik kecil objek dari objek yang jauh lebih besar yang telah diciptakan oleh Sang Mahasubjek.

 

Tentunya, resiko penggunaan objek vital manusia sebagai perlambang dalam sebuah karya sastra juga, mengandung resiko yang sangat besar. Disinilah, dibutuhkan kematangan dan keseriusan  seorang penggiat sastra dalam bergelut dengan dirinya sendiri untuk mencipta sebuah karya.

 

Jadi selain kematangan sang penggiat sastra sebagai pencipta karya, kematangan pembaca, sebagai penikmat sastra juga, haruslah terus meningkatkan mutu atau kualitas bacaan hidupnya sehingga tafsir yang dilakukannya terhadap karya sastra yang mengusung objek vital manusia sebagai bahasa perlambang, mampu menyikapinya lebih bijaksana.

 

Bukankah hakikat penggalan sajak di atas tadi tidak jauh berbeda dengan penggalan sajak berikut?

 

Mulut-Mulut Zakar

Dengan mulut, air ini kumasukkan ke dalam perut. Dengan mulut zakar kukeluarkan segala yang mesti ke luar. Kutegak segala cairan dari segenap mulut botol menganga. Kubiarkan darahku berganti warna serupa warnanya.

 

Terlalu papa pelangi, sudah. Karenanya, kujauhi bias-bias hujan yang tak kunjung reda. Dari lautan matahari selalu mengangkat bangkai-bangkai buih, lalu ditiupkannya roh-roh ke jasad bumi.

 

Bermilyar mulut para binatang akan menganga. Tapi tidak untuk sepasang mulut saya. Mulut yang menegak segala caian dari segenap mulut botol menganga. Dan mulut zakar yang mesti mengeluarkan segala yang mesti ke luar dan terjerembab ke limbah muara sana. Dimana bangkai-bangkai buih membusuk dan tak menebarkan aroma rasa.

 

Nah, tunjuk-tanganlah kiranya, siapa yang memfonis penggalan sajak ini, sebuah fornograpi sastra?

 

Dibanding orang yang menggunung ilmunya namun kelopak mata hikmah itu tetap terkatup-tertimbun saja. Saya rasa, beruntunglah orang yang diberikan sedikit saja ilmu namun mata hikmah terbuka padanya, sehingga buah zakar belalang, selalu tampak indah di bola mata kupu-kupunya.

 

Rawamangun, Senin malam, 14072008

hakcipta pada asharjunandar

Iklan

Tentang Sajak Cinta

Posted in Muhasyabah-Puisi on Januari 17, 2008 by asharjunandar

Sudah beberapa hari ini ingin menyajakkan tentang cinta. Kategori Kupukupu bersayap cinta di blog blalang ini sebenarnya difungsikan untuk menyimpan kategori sajak yang beraroma kasih sayang itu. Tetapi, sumpah…. ternyata meracik sajak yang mengenduskan nafas cinta teramat kepalang susah. Mengapa bisa ?

 Kalau untuk sekedar menyajakkan cinta asal-asalan, mungkin siapa saja bisa melakukannya. Bahkan anak SD kelas 3 yang sudah teramat maju langkah fikiran dan rasanya karena korban teknologi bacaan dan kemajuan zaman. Tapi, sebenar-benarnya sajak cinta yang tidak umum, yang tidak terkesan basi dan memang benar-benar menjadi satu sajak cinta yang inspiratif penuh letupan kreativitas tinggi sangat sulit untuk menciptanya.

Blalang beberapa hari ini, sering mampir di beberapa milist atau situs yang banyak memuat sajak cinta, dan kebanyakannya ya begitu-begitu saja. ” Seandainya, Kalau saja, Ada duka, Betapa aku mencintaimu, blala…blala…..blala….” jujur membuat mata dan fikiran blalang jadi jemu dan pongah (bosan.red).

Teringat kepada Esay Dino F Umahuk beberapa waktu lalu di milist Penyair@yahoogroups.com yang menyinggung kian menggilanya rintik hujan teknologi yang mengakibatkan berjuta kali menjamurnya penyair-penyair yang ingin meramaikan jagad ranah suci ini. Dan mungkin, bagi kebanyakan, cinta adalah sesuatu yang sangat sakral untuk terus diangkat sebagai tema puisi. Ya, paling nyata pastilah tema cinta antar dua jenis kelamin manusia.

untuk menyebut beberapa puisi yang blalang kutip dari satu situs yang sudah lumayan banyak penyair yang memposting karyanya disana sebagai berikut:

Penantian..

Terlalu naif rasanya bila kuharus milikimu sosok wanita yang sempurna yang pernah aku temukan Terlalu lama rasanya bila kuharus menunggumu kata yang tersembunyi itu cinta kau hanya yang tahu Namun bila kau mau tuk sekedar memahamiku takkan ada yang bisa mencintaimu seperti diriku Cinta.. tunjukkan padaku apa yang dapat kulakukan untuk membahagiakanmu Terlalu sombong diriku bila kufikir kaupun mau bersanding selamanya denganku dalam suka dan duka Namun bila kau mau tuk sekedar memahamiku takkan ada yang bisa mencintaimu seperti diriku Cinta.. tunjukkan padaku apa yang dapat kulakukan untuk membahagiakanmu Cinta.. tunjukkan padaku apa yang dapat kulakukan untuk membahagiakanmu Meski harus kuakhiri penantian yang tak bertepi : Hasanain Haykal beginilah rata-rata puisi  cinta anak muda-anak muda yang sedang dimabuk cinta dan terjangkit demam penyair musiman (kalau tidak marah disebut, penyair pendompreng).

Adakah yang salah dengan puisi itu ?

Memang tidak ada yang salah dengan puisi itu. Tetapi, alangkah datarnya rasa yang dapat diresap dan nyaris sama sekali tidak ada yang mengendap (membekas) dalam jiwa, dalam gundukan sunyi, yang lincah bergerak, atau menari-nari, atau bersuara dengan riang, atau perih, atau apa saja bentuk sosok rasa yang dapat dibangkitkan dari puisi tersebut. Memang ini sifatnya sangat subjektif sekali. Tetapi, marilah kita renungkan untuk beberapa detik saja, mungkin sudah jutaan bahkan ratusan juta anak muda di dunia ini menghasilkan sajak atau puisi yang senada dengan kata dan penuturan yang sama mungkin hanya terjalin dalam perbedaan jenis bahasa yang digunakan.

 Hasilnya, belum selesai mata kita untuk membacanya, kacamata jiwa kita sudah keburu bosan untuk menerjemahkannya. Kenapa ? karena tidak adanya rasa tersentuh secara personal lagi. Baik bahasa, gaya penuturan dan pemilihan – pemilihan kata yang digunakan sebagai bahan untuk meracik sayur sajak ini, sudah terlalu umum dan mungkin sangat umum sekali.

 

Mungkin ada baiknya coba kita kupas bait per bait sajak ” penantian” teman ini:

dari kepala sajak saja: “PENANTIAN”, sudah memberikan kita Imajinasi atau bayangan bahwa si penyajak sudah atau sedang menanti sesuatu dari seseorang, atau dia tengah merasakan sesuatu yang sangat dekat akan sesuatu yang sedang menjauh atau ketika berada jauh di luar badan dirinya yang kasar. Sejak blalang suka membaca sajak dari berbagai penyair di Indonesia saja, blalang sudah menemukan judul sajak seperti ini persis  lebih dari 50 puisi, dan untuk mengingatnya satu persatu, sepertinya hal yang sangat mustahil. Yang blalang ingat adalah, blalang juga pernah membuat judul puisi yang seperti ini pada saat menulis sajak di kelas 2 smp.

“Terlalu naif rasanya bila kuharus milikimu sosok wanita yang sempurna yang pernah aku temukan”

Ini adalah pernyataan penyair mungkin kepada dirinya sendiri atau bisa jadi juga langsung kepada si wanita, yang katanya akan menjadi terlalu naif, akan terlalu keterlaluan dan bisa jadi akan menjadi suatu khayalan yang begitu mustahil terjadi, untuk apa ? untuk memiliki si wanita ( yang menurut si penyair merupakan sosok wanita yang sempurna, yang pernah dia temukan). Pada bait ini, sama sekali tidak ada permainan metafora bahasa, begitu lugas dan tegas. Kita, pembaca tidak diajak hayalan, rasa, hati dan daya fikir imajinya untuk menyingkap tabir rahasia bait pertama sajak ini. Berikutnya, kita menuruni anak tangga bait ke dua dari tangga sajaknya:

“Terlalu lama rasanya bila kuharus menunggumu kata yang tersembunyi itu cinta kau hanya yang tahu”  

Kembali lagi, seakan penegasan dari model bait pertama, bahwa pertama kali penyair menyatakan ketidak pantasannya untuk memiliki sosok wanita yang dimatanya sempurna (belum yang paling sempurna), sekarang ditambahnya penekanan bahwa penyair tidak akan pernah memiliki si wanita, karena penyair merasa terlalu lama untuk menunggu, sedang bentuk cinta penyair, mungkin cinta yang berusaha ditunjukkannya kepada si wanita, hanya si wanita saja yang tahu, sedang wujud cinta wanita itu, hanya si wanita itu saja yang tahu.

Lagi-lagi, pada anak tangga kedua bait sajak ini, kita tidak diberikan sengatan-sengatan atau kejutan-kejutan yang sedikitpun akan menyengat hati atau rasa kita untuk mengikat sajak ini, mengendap di dasar jiwa kita. (setidaknya, ini yang blalang rasakan). Mari, kita kembali menjumpai anak – anak tangga bait ketiga dan seterusnya sajak “Penantian” ini.

Namun bila kau mau tuk sekedar memahamiku takkan ada yang bisa mencintaimu seperti diriku Cinta.. tunjukkan padaku apa yang dapat kulakukan untuk membahagiakanmu Terlalu sombong diriku bila kufikir kaupun mau bersanding selamanya denganku dalam suka dan duka Namun bila kau mau tuk sekedar memahamiku takkan ada yang bisa mencintaimu seperti diriku Cinta.. tunjukkan padaku apa yang dapat kulakukan untuk membahagiakanmu Cinta.. tunjukkan padaku apa yang dapat kulakukan untuk membahagiakanmu Meski harus kuakhiri penantian yang tak bertepi

Di bait selanjutnya, penyair menyatakan kalau saja si wanita bisa memahami diri dan cintanya, maka si wanita pada akhirnya akan tahu bahwa hanya si penyair yang mampu mencintai si wanita sedemikian rupa. 

Selanjutnya, penyair meminta cinta, sang cinta itu sendiri, untuk menunjuki dirinya, atas lakon apa yang harus diperbuatnya untuk dapat membahagiakan si wanita ?, atau pada akhirnya penyair menarik kesimpulan kepada dirinya sendiri karena di sana, tidak ada suara atau bisikan yang menjawab tanyanya. Si Cinta yang dimintai jawabannya ternyata tidak memberikan jawaban apa – apa. Suara angin tidak ada, semua, hanya diam, atau tidak bisa dibilang karena memang tidak ada kata atau kalimat yang menyiratkan keadaan tersebut. Jawaban yang diajukan penyair, sesungguhnya mengambang, apakah pada akhirnya dia mendapatkan jawaban atau tidak, tapi yang pasti, dia sudah mengambil satu kesimpulan tegas, seperti benang merah yang mengikat layang-layang yang ingin bebas terbang, bahwa: dia (sang penyair) akan tetap mengusahakan akan tetap membahagiakan cintanya, atau kalau bisa si wanita, walau dia akan mengakhiri penantian itu. bagaimana mengakhirnya ?

sungguh suatu kejanggalan yang sangat sempurna,

setidaknya, ini hanya dari steteskopnya mata blalang saja.

blalang, jadi teringat pada satu pernyataan Presiden Penyair kita, Bung Tardji, di Isyarat-nya, bahwa ada baiknya untuk sementara waktu ada baiknya menyimpan karya-karya sajak yang mungkin masih terlalu prematur untuk pecah dari telurnya. Seiring kemajuan dan peningkatan taraf rasa kepenyairannya kelak, mungkin puisi yang disimpan rapi pada file perjalanan kreativitasnya, akan bisa menjadi sebuah telur emas sajak yang diperebutkan oleh jiwa pembacanya, siapa sajapun mereka.

 

“HAI SAJAK, AKULAH TUHANMU!!!”

Posted in Muhasyabah-Puisi on Desember 31, 2007 by asharjunandar

Menelaah dan menafsir setumpuk tulisan “Isyarat”-Tardji, yang baru beberapa bulan ini beredar di pasaran akan memberikan kita ilham yang sangat bermanfaat untuk menumbuhkan gairah dan hasrat kepenyairan di dalam pembuluh darah kita. Setidaknya itulah yang saya rasakan hingga detik ini.

Di dalam beberapa tulisannya, dia tidak jarang menyinggung tentang hakikat keberhasilan seorang penyair. Menurut Tardji, seorang yang sudah mendeklarasikan dirinya sebagai penyair, baik kepada dirinya sendiri (kepada jiwanya) atau kepada khalayak ramai, sesungguhnya belumlah menjadi penyair tulen sebelum mendapatkan gaya sidik jari pengucapannya sendiri. Ini adalah wajar. Mengingat, mungkin sudah ribuan atau puluh ribu penyair beredar di Indonesia ini. Bahkan jutaan manusia di muka bumi ini, setidaknya sudah pernah menulis sajak meskipun itu baru sebutir pasir di gurun sahara. Dia berhak saja menyatakan dirinya sebagai penyair. Toh, tidak ada aturan formal atau undang-undang yang melegitimasi siapa yang berhak memiliki wewenang untuk menyematkan gelar penyair, dari siapa kepada siapa. (blalang belum pernah melihat baju toga kesarjanaannya, hehe:)

Inilah salah satu keajaiban dunia sastra di dunia yang ajaib ini. Kepenyairan lahir dari suara ruh, ruhnya manusia. Sajak apapun yang tercipta, hakikatnya adalah bisikan hati dari Sang pemilik hati. Pada fase inilah sesungguhnya fase orijinalitas sajak tercipta. Semua tercipta utuh sempurna bermaterikan suara hati tadi. Sayang, kebanyakan, ini hanya berlaku pada tahapan ruh sajak saja. Ketika sajak itu lepas dari ruang imajinasi ruh dan selanjutnya didistribusikan kepada manusia (pembaca) dalam wadah kata-kata atau apapun bentuknya, sajak sudah mengalami pengotoran ruh sucinya.

Transformasi ruh sajak sebagai bisikan ruh dari ruh manusia (bisikan hati dari hati) untuk terlahir ke dunia menjadi bayi sajak baru bagi pembaca dinodai dan dikotori oleh berbagai hirup-pikuk embel-embel sajak menurut sebagian pembaca. Mereka ini merasa sudah berhak menghakimi suatu sajak bisa dianggap sajak berhasil atau tidak, tentunya, menurut relevansi referensi diri mereka sendiri.

Siapa berhak menghakimi siapa? Tapi inilah kenyataannya. Sebuah tradisi akar-mengakar dari para sastrawan, membuat siapapun yang bergelut di bawah atap dunia seni, khususnya kepenyairan, lupa kepada keluhuran suara dari suara hati tadi (ruh sajak.red).

Penyair, dalam hal ini, hanya jadi media distributor yang diharapkan tetap mampu menjaga keperawanan embrio sajak yang akan lahir dari rahim kreativitasnya. Tidaklah sesederhana itu.

Ruh sajak yang sudah dihembuskan oleh suara hati dari hati kita ke rahim kreativitas kita ini lebih sering berubah menjadi sesuatu yang bukan dirinya lagi ketika terlahirkan nanti. Begitu banyak makanan-makanan kebohongan yang kita berikan memalui tali plasenta jiplak-menjiplak ketika mengandungnya di rahim kreativitas kita. Pada saat proses penciptaan berbagai organ-organ tubuh sajak yang dikandung, sering kali kita lupa bahwa dia adalah makhluk yang memiliki bentuk wajah dan tubuh yang tidak boleh sama dengan siapapun juga dengan mahkluk sajak yang sudah lahir lebih dulu darinya. Memang begitulah harfiah yang sesungguhnya pada awal penghembusan ruhnya.

Tapi semua berubah karena apa? Karena kita, selaku penyair, baru memposisikan diri kita hanya sebagai penyalur, distributor atau perantara kelahirannya ke dunia ini saja. Kita begitu sering disibukkan oleh pencarian metode atau cara-cara yang paling tepat untuk menghasilkan seorang bayi sajak yang kita kira setelah dia lahir nanti sehat, tidak cacat dan dapat dibanggakan sebagai mahkluk ciptaan kiata. Kita begitu sibuk meminjam atau mencontek berbagai formula makanan bayi sajak dari orang-orang tua penyair sebelum kita. Inilah yang menyebabkan begitu banyak bayi-bayi sajak yang terlahir dari ibu penyair yang berbeda tapi menghasilkan wajah, rupa, bentuk dan tubuh sajak yang benar-benar sama. Kalaupun tidak sama, ya, hanya sedikit berbeda.

Mungkin sangat sulit menghitung, berapa banyak sudah bayi sajak yang lahir seperti bayi-bayi sajak Chairil Anwar, Sapardi, Tardji, GM, Taufik. Sebanyak orang yang merasa rahim kreativitasnyalah yang dulu mengandung embrio sajak itu sebelum lahir ke dunia. Mereka merasa dilecehkan ketika dikatakan bahwa bayi sajak itu persis sama atau hanya sedikit berbeda dengan bayi-bayi sajak yang lebih dulu dilahirkan oleh mereka-mereka, yang kini, bayi-bayi sajak itu sudah tumbuh dewasa di antara kita.

Ketika penyair memposisikan dirinya hanya sebagai orangtua, yang rahim kreativiasnya cuma berfungsi untuk mengandung ruh sajak yang ditiupkan suara hati dari hati penyair tadi menjadi embrio, kemudian dilahirkan menjadi bayi sajak, maka selama itulah bayi tersebut bukanlah bayi sajaknya. Karena formula atau perumusan proses pertumbuhan yang terjadi di rahim kreativitasnya dari fase embrio hingga kelahiran dipinjam dari penyair-penyair yang sudah pernah melahirkan bayi sajak yang benar-benar menjadi bayi sajak mereka.

Sederhana kasusnya, untuk melahirkan bayi-bayi sajak yang dapat kita nyatakan sebagai bayi-bayi sajak kita sendiri (bukan lagi bayi-bayi sajak Chairil, Sapardi, Gm, Taufik ataupun siapapun itu) cukup kita tukar posisi kita dari seorang distributor sajak menjadi seorang pencipta bayi sajak. Artinya apa? Rubahlah posisi ini. Kita bukanlah lagi sebagai orang tua yang mengandung embrio sajak di rahim kreativitas kita dan menyalurkannya menjadi bayi sajak hidup. Tapi sekarang kita adalah TUHAN bagi kelahiran bayi-bayi sajak kita. Ini sesuai dengan prosesi kemunculan ruh sajak pertamakali di rahim kreativitas kita. Bukankah ruh sajak itu dihembuskan oleh suara hati dari hati kita ? Yang paling hati dari hati kita. Jadi, kewajiban kita pulalah untuk terus berperan sebagai tuhan bagi ruh sajak tersebut selama menjalani proses selanjutnya, baik itu pada proses pengandungan embrio sampai kepada kelahiran bayi sajak itu kelak. Kitalah tuhan-nya, yang berhak secara mutlak mengatur segala proses penciptaan ini terjadi.

Ketika tingkatan ini tercapai, tidak akan ada lagi orang yang berani mencap bahwa bayi-bayi sajak yang terlahir dari rahim kreativitas kita adalah bayi sajak Chairil, Gm, Taufik, Tardji atau siapapun. Mereka adalah bayi sajak yang bertuhan kepada kita, si penyair yang menciptakannya.

Untuk memposisikan diri kita sebagai tuhan bagi makhluk-makhluk sajak kita, kita harus melakoni peran “tuhan” dengan baik dalam proses mencipta. Nah, untuk inilah seorang penyair harus terus belajar dan belajar kepada tuhan yang menciptakannya agar bisa meleburi “sebenar-benarnya tuhan” bagi bayi-bayi sajak yang akan diciptakannya.

Bagaimana caranya, balalang? Maaf Teman, formula ini juga sedang saya pelajari dan fikirkan. Berkali-kali sudah saya tanyakan kepada tuhan saya, tapi Dia belum membalas e-mail saya. Yang jelas, mulai sekarang kita harus berani berseru lantang: “Hai, sajak-sajakku, AKULAH TUHANMU!!!”

Oh ya, mungkin dalam kasus inilah, ada gunanya jadi seorang perompak yang merompak kearoganan Dhani atau ke-akuan-nya Cairil. Mungkin, mereka sudah mencapai taraf ketuhanan bagi bayi karya seni-nya.
Setujukah Anda? Apapun itu, bukankah keputusan selalu diiktibarkan sebagai dua sisi mata uang ?

 

 

 

hakcipta pada asharjunandar

Demi singgahsana Kapal Sajak Dewa ?

Posted in Muhasyabah-Puisi on Desember 24, 2007 by asharjunandar

Kuda-Kuda Kecil Menuju Jurus Sakti Dewa
Setelah sekoci tulisan pertama blalang, “SESUDAH MENELURKAN KARYA, PENYAIR MATI?” meluncur di arus-arus batang hari teman-teman (apakah itu disebut tulisan esai, opini, atau celoteh?, entahlah, blalang tak terlalu galau, meributkan tiupan halus syahwat itu:), inilah yang kali kedua atau kedua kali blalang menelurkan musyahabah puisikupukupu (semoga pantas disebut musyahabah). Inipun, usai bertarungan ribuan jurus dengan bisikan-bisikan antah-berantah yang hadir darimana bermula, bertandang ke kamar otak blalang. (Mungkin dari moyang-moying Gilli yang bersemayam di Goa Kucing, sesuai kata Lintang Sugianto atau dari Goa Hantu atau entahlah)Awalnya, mereka santun pantun mengetuk pintu. Tapi lama-kelamaan malah bermuara pada pertikaian, clurit sengit beterbangan. Blalang kalah, terjajah, terkapar berdarah-darah. Lima malam ini di cap oleh jiwa sendiri: itu, si gila yang ber-monolog dengan pikirannya sendiri:).

Ide menuangkan cairan picisan ini dari kuali otak blalang sudah terbersit tujuh hari lalu. Namun berbagai aktivitas harian kantor serupa gerombolan bom waktu yang meluluh-lantahkan berbagai tempat di Indonesia kita. Ditambah obsesi merevisi kembali tandan puisi: “Kaki-Kaki Angin” yang ingin blalang kirim ke penerbit, menggenapkan penundaannya. Ternyata masih banyak bercak nanah kotor berserakan di sana-sini kulit kakinya yang harus dibersihkan. Dan nganga liang lukanya mesti segera ditambal perban. Takut kakinya malah busuk dan harus diamputasi. Buntung dong nanti? Hehehe).

Akhirnya, blalang mengibarkan sapu tangan putih dan berjabat tangan dengan suara-suara yang lancang bertamu itu. Eh, mereka malah minta jatah kamar tidur satu-satunya di rumah otak blalang. Hah, Biarlah ini cepat selesai. Biar mereka angkat diri dan ee’ diperut kakinya segera agar semua normal kembali.

Bagi blalang malam minggu adalah perempuan waktu yang belum punya pacar maka sekoci tulisan ini dirampungkan di pulau dentang nadinya. Semula blalang berencana menjadikannya beberapa episode cerita. Eh, lagi-lagi blalang terkapar ditikam belati-belati karatan suara itu dari belakang. Jurus mereka terlalu ampuh. Belajar entah dari pesilat mana mereka.

Inilah jurus mahadigdayanya. Blalang tulis setelah perut dihuni dada ayam hangat. Di sebuah kamar bersama Si Silver (panggilan laptop blalang) yang mengulum senyum, blalang menikmati pusaran lembut semilir angin hawai dari sebiji mulut kipas angin. Bermodalkan ingatan dan selembar segitiga pengaman menutupi badan, Silver meluluskan request blalang. Dia melantunkan tembang-tembang DEWA 19 (untuk lagu ini kami tidak perlu bertengkar karena Silver adalah teman baik blalang). Masih mau baca atau langsung tutup badan halaman email-nya? Hehehe, tanggungkan, bro ?:P tuh judulnya dah nyengir di bawah:

MEROMPAK POSAIDON KEAROGANAN DHANI DEWA
DEMI SINGGAHSANA KAPAL SAJAK DEWARUCI KITA?

Prologue:
Mungkin ya, mungkin tidak. Di Indonesia ini, setidak-tidaknya anak-anak muda belasan dan puluhan tahun tidak ada yang tidak kenal dengan satu nama: Dhani. Bukan Dhani teman kelas mereka atau Dhani anak tetangga, atau dhani nama kucing kesayangan si Dewi manja. Dhani yang ini adalah Dhani Ahmad Manaf. Begitulah dia selalu mengumandangkan namanya lewat corong-corong mikrofon album Dewa 19, acapkali menyeruak ke pecinta musik tanah air kita. Meminjam judul film Rudi Sudjarwo: “Ada Apa dengan “Dhani Dewa”?”

Memang bukan Dhani namanya kalau tidak membuat kita membicarakannya. Apakah debat kusir itu tentang kebaikan, keburukan, kehebatan, kepiawaian, kejeniusan atau kearoganannya yang selalu tampak lebih menonjol ketika dia tampil di manapun juga. Di layar tabung TV, panggung, gossip infotainment, surat kabar atau pewawancara langsung yang bertatap muka dengannya. Bahkan kita harus jujur pada diri sendiri bahwa kita lebih sering menghakiminya langsung sebagai aikon arogan sejati yang menyeruak di hampir segala sendi kehidupannya. Tidak terkecuali ideologi tangan besinya yang menjamah-meracik peta-peta tubuh Dewa 19, band yang dibentuknya kalau tidak salah pada usia 19 tahun sesuai embel-embel Dewa dan yang mengaisarkan namanya. DEWA sendiri merupakan inisial nama-nama personil perdananya ketika lahir dari rahim bumi, bekas raja-raja majapahit pernah menjadi kaisar nusantara: Dhani (keyboard), Erwin (bass), Wawan (drum), Ari (vocal), dan Andra (gitar)

Tidak banyak band dengan kondisi tanah gersang karena acapkali gonta-ganti punggawa tetap eksis, bahkan bermetamorfosis menjadi salah satu dewa band di Indonesia, atau mungkin lebih jauh lagi untuk kerajaan Asia Tenggara.

Dari pori-pori kearoganannya mengalir butiran keringat imajinasi, kejeniusan dan selera bermusik yang jarang ada tandingannya di Indonesia, setidaknya untuk saat ini. Dan dari pori-pori itu pulalah bertebaran serumpun lagu masterpiece-nya Dewa 19. Untuk menyebut satu per satu akan terlalu panjang, misal saja: Kangen, Aku Milikmu, Kirana, Kamulah Satu-Satunya, Pangeran Cinta, Laskar Cinta, Dua Sedjoli, Roman Picisan sampai Munajat Cinta dan Kamulah Surgaku, di album band The Rock, adalah racikan teranyer pori-pori kearoganannya.

Selain itu, kehadiran seikat kembang penyayi mawar yang tumbuh dan mekar mewangi di taman belantika musik Indonesia, seperti: Reza Artamavia, Tere, Pingkan, Agnes Monica, dan baru-baru ini Trio Dewi-Dewi, sudah cukup diajukan sebagai surat bukti ketangguhan si dewa musik ini. Batang, cabang, ranting dan akar mereka tentu sudah sempat mengecap mujarabnya khasiat pupuk ideologi tirai besi Dhani, yang bersumber dari mata air kearoganannya.

Kearoganan Vs Kesombongan
Benarkah kearoganan sama dengan kesombongan ? Dimana beda letak teka-teki pijakan kedua kakinya? Sekilas, lagi-lagi kita menggunakan kacamata berlensa cembung yang terlampau tipis untuk menyeru makna intinya agar angkat tangan segera. Saya memang belum menemukan satu literatur purba sekalipun untuk menyimpulkan perbedaannya. Ini cuma hipotesa pribadi yang saya uji Ho dan H1-nya. Bagi mahasiswa statistika atau yang pernah mengikuti kuliah statistika pasti sudah jeli berhadapan dengan kasus pengujian ini.

Jika pada kasus ini, Ho kita bubuhi kalimat hipotesis bahwa “Kearoganan sama dengan Kesombongan” maka pada H1 sebagai hipotesa tandingan, kita tikmark kalimat “Kearoganan tidak sama dengan Kesombongan”. Seorang peneliti hanya bertugas menyelidiki untuk menarik garis benang merah kesimpulan, apakah dia harus menerima Ho sebagai suatu hipotesis yang benar atau harus menolaknya, yang tidak ada pilihan lain sementara kecuali menerima H1 (hipotesa tandingan) sebagai kesimpulan. Ingat, hanya kesimpulan sementara, bukan sebuah akhir kesimpulan mutlak adanya. Bukankah kemutlakan hanyalah kesimpulan akhir bagi mata tuhan?

Melalui riset fikiran pribadi saya setelah baku-hantam dengan berbagai literatur renungan dan pertimbangan, mekarlah satu kuntum bunga kesimpulan bahwa saya pribadi harus menolak Ho dan menerima H1. Yang berarti, saya harus menarik sebuah kesimpulan akhir sementara, bahwa “kearoganan itu memang berbeda dengan kesombongan” pada satu syarat tingkatan tertentu.

Saya menyikapi aroganisme manusia sebagai suatu keegosian diri kita sendiri terhadap keberadaan diri lain kita yang sama-sama bermukim di dalam tubuh diri kita sejak di utus oleh Yang Mahapengutus ke bumi Adam ini. Melalui proses panjang perjalanan diri batin kita, dia lebih kepada diri yang tertakdir untuk lebih banyak menghirup udara di jantung diri kita dan menjadi sidik jari jati diri di banding diri-diri kita yang lain. Panca indra manusia lain mengidentifikasinya sebagai sifat atau karakter yang melekat di diri kita. Pencitraan siapa kita di retina otak mereka.

Misalkan saja di diri kita bermukim diri rajin, malas, malu, kasar, lembut dan lain sebagainya. Kalau pada akhirnya diri rajin lebih unggul dan menonjol dari diri malas, diri malu, diri kasar dan diri-diri lain di diri kita, maka orang lain akan mencitrakan diri kita sebagai seorang yang rajin. Nah, disinilah kearoganan kita memetik senar dawai peranan. Diri rajin sudah meng-arogani diri-diri kita yang lain. Karena diri-diri kita yang lain yang sebenarnya juga hidup dan bernafas di dalam diri kita secara tidak langsung jadi merasa atau dirasakan tersisihkan baik secara sadar atau tidak oleh diri kita sendiri, apalagi menurut penilaian diri orang lain terhadap diri kita. Meskipun kadang kala, diri-diri kita yang lain tersebut (selain diri yang telah mengarogani tadi) sesekali menampakkan wujudnya, tapi karena diri kita sudah terlanjur mencitrakan satu diri tertentu kepada lingkungan di luar diri kita, diri orang lain jadi sulit mengidentifikasi dan menerima keberadaannya. Jadi, kearoganan ini lebih bersifat ke dalam diri , ke jiwa, ke karakter, ke diri halus manusia. Kepada apa yang dimiliki dan bersemayam di jiwa ruh kita.

Sedang kesombongan sendiri, secara harfiahnya memiliki defenisi yang sama dengan kearoganan. Yang membedakan adalah pada pemaknaan. Kesombongan manusia lebih kepada ke luar diri manusia. Kepada benda-benda luar yang dimiliki diri atau tubuh luarnya. Misalnya saja, diri itu memiliki diri mobil, diri rumah, diri tanah dan segala sesuatu diri luar yang diri kita mengkalim mereka (diri-diri itu) sebagai milik diri kita. Maka mereka (diri mobil, tanah, rumah dan lain sebagainya tadi) akan hidup dan bernafas memberi pengaruh masing-masing yang unik kepada diri luar kita (panca indra jasmaniah).

Jika diri mobil ternyata jadi magnet yang kekuatan tarik magisnya lebih besar dibanding diri-diri yang lain menarik perhatian diri kita, maka diri mobil itulah yang akan menjadi brand kesombongan bagi diri kita pada pandangan mata diri orang lain dibanding diri rumah, atau diri tanah, milik diri luar kita.

Pada satu tingkat penglihatan dengan teropong dimensi yang berbeda, disinilah beremayam salah satu rahasia tuhan dari sekian rahasia-Nya yang tidak terhingga, tidak terbilang. Bukankah Dia berfirman bahwa” Kesombongan itu adalah selendang kebesaran-Ku. Barang siapa yang memakainya, berarti dia menyatakan perang dengan-Ku (karena sudah berani memakai Zirah Kebesaran-Ku)”. Dengan kata lain, aroganisme adalah sombong-isme tuhan yang ditumbuh-mekarkan di diri dalam manusia, yaitu diri halus kita. Tidak ada dosa dengan aroganisme diri kita terhadap diri-diri dalam kita yang lain, tapi cobalah untuk bersikap sombong sebiji sawi saja kepada atasan Anda di Kantor, misalnya? Tunggulah, efek dari firman tuhan itu akan segera bekerja. 

Inilah landasan mengapa saya akhirnya menerima Ho, setidaknya untuk sementara: Dan jangan pernah berhenti untuk menghardik diri sendiri, bukan ?:)
Kearoganan Dhani Vs Ke”Aku”an Chairil
Merambah ke benua kearoganan Dhani dan Ke-aku-an Chairil, bagi saya adalah bagai membandingkan Posaidon (film tentang ketangguhan kapal selam Posaidon) dengan Titanic. Keduanya indah dan unik. Sayang, bank ingatan saya sudah cukup bangkrut dengan file kedua film itu. Tapi inilah kira-kira alur bagannya. Posaidon, menggambarkan sebuah kapal selam perang termuktahir yang pernah diciptakan oleh USA. Sebagaimana kapal selam perang, dia difungsikan sebagai teliksandi angkatan laut USA untuk membaca gerakan jurus negara-negara yang dianggap membahayakan tuannya. Gagah, jantan, perwira, menawan sekaligus arogansi seorang laksamana berbintang lima. Titanic, adalah kapal pesiar yang paling modern, unik, anggun, charismatic feminism, sekaligus ke-aku-an putri yang pernah ada, di tiang sejarah-nya masing-masing. Inilah yang membedakan mereka berdua. Dhani adalah seorang jendral laut yang menjelma menjadi Dewa Jupiter Yunani kuno di karya musik Indonesia, sedang Chairil adalah seorang putri raja yang menjelma menjadi Dewi Kematian Yunani, istri Zeus, dewa para dewa, yang bersemayam di bukit Olympus karya puisi Indonesia. Dhani menunggangi kuda kapal Posaidon-nya sendiri sehingga atas ijin tuhan masih tegak berdiri, hidup dan mulai melegenda. Chairil yang menakhodai Titanic-nya sendiri karam di perut samudra dan sudah melegenda melebihi dewa-dewa karena ke-dewian-nya yang sendiri di bukit Olympus puisi sana.

Persamaan kedua biang hasil karya manusia ini adalah pada kemampuan menggunakan karakter kearoganan dan ke-akuannya untuk menciptakan karya-karya yang bisa dibilang akan dan telah melegenda. Dhani, layaknya Chairil, berimajinasi tinggi, jenius, tangguh dan kritis dalam mengevaluasi hasil karya sendiri. Maka yang mengalir dari sungai dayacipta keduanya adalah karya-karya terbaiknya.

Persamaan keduanya juga dapat ditelusuri dari jejak-jejak referensi berkaryanya. Lewat pengakuan Dhani sendiri, jiwa bermusiknya sudah dicekoki band-band dunia sejak usia belasan. Untuk menyebut band selegendaris Queen, The Beatles, U2, Radiohead dan masih banyak lagi yang menjadi koleksi intelektualitas bermusiknya. Sedangkan Chairil, untuk menyebut penyair kaliber dunia seperti Rilke, Hemingway, WH Auden, TS Eliot, dan entah berapa puluh buku sastra dan bidang lain, karya penulis terkemuka belanda dan dunia yang dicurinya dari perpustakaan pribadi Sutan Syahrir hanya untuk memuaskan dahaga kepenyairannya yang terus dahaga, seperti meneguk airmata samudra.
Dhani is Chairil, but Chairil was not either
Dhani adalah Chairil tapi Chairil bukanlah Dhani. Mengapa ? Lihatlah hasil-hasil karya mereka. Jika Dhani menggubah syair lagu “Arjuna Mencari Cinta” yang sempat jadi polemik dengan novelis Yudhistira yang mengklaim bahwa headline tersebut adalah hak cipta imajinasinya, sehingga Dhani harus mengganti judul lagu itu menjadi “Arjuna” saja. Selain judul itu, masih ada beberapa judul lagu lain, sebut saja “Sayap-sayap patah” dan Kasidah Cinta-nya Kahil Gibran. Begitu jugalah halnya dengan Chairil yang ternyata belakangan diketahui bahwa sajak “Krawang-Bekasi” adalah sebuah saduran dari hasil karya MacLeish. Artinya apa? Selain memiliki ruh minat (totalitas) yang nyaris sama takarannya kepada dunia yang digelutinya, jenius, berimajinasi yang mencengangkan, mereka berdua, tanpa sadar atau tidak, adalah pembajak yang ulung. Oleh karena itulah Dhani is Cairil.

Tapi, ditelisik dari kedalamannya memaknai seni sebagai bias cermin dari kehidupannya, tentunya Cairil bukanlah tandingan Dhani. Simak saja karya kedua kapal cantik ini,

Dhani pada “Dua Sedjoli” menyairkan lagunya demikian:
“Usap air matamu yang menetes dipipimu/Kupastikan semuanya akan baik-baik saja/Bila kau terus pandangi langit tinggi di angkasa/Tak ka nada habisnya segala hasrat di dunia/Hawa tercipta di dunia untuk menemani sang adam/Begitu juga dirimu, tercipta untuk temani aku”

Atau pada lagu “Arjuna”, Dhani menorehkan pena cintanya, seperti ini:
“……. /Akulah Arjuna yang mencari cinta/Wahai wanita, cintailah aku/……./Mungkin kutemui cinta sejati saat aku menghembuskan/Nafas terakhirku/ Mungkin cinta sejati memang tak ada/Dalam cerita kehidupan ini”

Sedang Chairil dengan lantang menerjang dalam sajak “Aku”-nya yang meradang:
“Bila tiba waktuku/……./Aku ini binatang jalang/Dari kumpulannya terbuang/ Biar peluru menembus kulitku/ Aku tetap meradang menerjang/…./Dan aku lebih tidak perduli/Aku mau hidup seribu tahun lagi

Atau pada sajak “Derai-Derai Cemara”
“Cemara menderai sampai jauh/ terasa hari akan malam/ ada beberapa dahan di tingkap merapu/dipukul angina yang terpendam/……/sebelum pada akhirnya kita menyerah”

Atau pada “Sorga”, Chairil tegas menoreh:
/…../Tapi ada suara menimbang dalam diriku/nekat mencemooh: Bisakah kiranya berkering dari kuyup laut biru/gamitan dari tiap pelabuhan gimana? /lagi siapa bisa mengatakan pasti/disitu memang-memang ada bidari/suaranya berat menelan seperti Nina, punya/kerlingnya Jati?

Menafsir lirik-lirik syair lagu Dhani dan lirik-lirik sajak Chairil di atas setidaknya sudah cukup memberikan setandan peta tubuh jiwa mereka dalam berkesenian. Bahwa Dhani baru berhasil menghujamkan belati kearoganannya kepada tubuh cinta, sebalai salah satu sendi kudus kehidupan manusia (simak lirik “Arjuna”), Chairil sudah melampaui dimensi itu. Ke-akuan-nya Chairil dalam menjiwa-darahi kesenian diawali dengan pertanyaan tentang hakikat kematian (sajak “Nisan”) yang kemudian diproklamirkannya ke-akuan-nya yang saya fikir lebih ditujukan kepada tuhan dalam sajak “Aku”.

Meski Chairil mengakui adanya peranan kekuatan gaib di luar dirinya yang jauh lebih maha daripada kekuatan ke-akuan-nya (sajak “Doa”) tapi ke-akuan-nya dengan sadar ingin mencapai Ke-Akuan-nya tuhan (simak “Sorga”: secara utuh dan kalau sempat sajak “Di mesjid” juga) selama dia masih mereguk tiap inchi udara yang menggelembungkan paru-paru hidupnya. Menjelang luruh daun-daun detik kehidupannya, Chairil akhirnya menyerah juga pada Ke-Akuan-nya tuhan, (simak”Derai-Derai Cemara”).

Inilah yang membedakan Dhani dengan Chairil. Keluasan semesta berkeseniannya sudah mampu dilarutkannya pada nyaris seluruh dimensi kehidupan manusia, cinta, hidup, mati, atau apapun itu yang merupakan rangkuman lidi-lidi kehidupan itu sendiri. Berkesenian bagi Cairil sudah benar-benar merembesi ke dalam butiran sel-sel darah dan pemompa jantungnya selama hidup dan berkarya. Maka, mengalirlah berbagai kisah melegenda tentang penyair binatang jalang ini yang terus menghiasi bumi persada kepenyairan tanah air kita, yang tidak sedikit dijadikan kiblat, malah jadi semacam pengkultusan gaya hidup kepenyairan yang benar-benar dianggap sejati. Bisa dikatakan himpunan semesta Dhani baru merupakan himpunan bagian dari himpunan semesta Chairil. Maka, Chairil was not Dhani.

You want to be some one, be some one
Memang dua manusia ajaib ini, terkadang membuat decak mata kita terus terkagum-kagum nyaris tanpa kedipan. Mungkin dengan kemungkinan yang mendekati pengujian hipotesis dengan tingkat peluang kekeliruan 5%, bila saja lautan rongga dada Chairil masih diizin tuhan dihuni oleh ikan-ikan oksigen dunia, dia akan menghasilkan sajak yang jurus-jurus ketakjubannya sukar kita cari tandingannya sebagai mana Dhani terus berevolusi dengan karya komposer keybord rasanya.

Sedikit membandingkan lagu “Kangen” di awal masa penciptaan lagunya dengan “Kamulah Surgaku”, bagi saya sudah seperti membandingkan sajak “Diponegoro” dengan “Derai-Derai Cemara”-nya Chairil. Kualitas masing-masing karya kedua insan ini diteropong dari sudut bukit manapun, menunjukkan hasil dayakarya seni yang sudah sangat jauh berbeda tingkatan derajat suhu celcius-nya.

Bagi kita, kau dan aku, siapapun anda, tentunya mereka adalah mereka. Bercermin pada kolam air kaca tetangga terlalu lama dan lama, hanya akan membuat kita lupa pada air muka kita sendiri, bahkan kita bisa jadi kesurupan lalu menceburkan diri ke dalamnya. Bahwa kita juga harus bercermin, iya. Cukuplah kita meminjam cermin mereka sekedar membandingkan bentuk hidung atau dua bola mata kita alakadarnya. Kita juga adalah seperti mereka, hasil dari perjuangan jutaan sperma ayah yang lebih dulu bertarung sampai mati hingga terpilihlah satu satria tertangguh yang berhak mempersunting putri indung telur ibu kita. Untuk mencipta dan memiliki kapal sajak Dewaruci, Cukuplah kita meminjam cermin kearoganan Dhani dan Ke-Akuan Chairil saja, bukan membajaknya. Kalaupun membajaknya, pada akhirnya kita tetap harus menciptakan tipe kearoganan atau ke-akuan sendiri yang sama sekali berbeda dengan milik mereka. Setujukah Anda? Apapun itu, bukankah keputusan selalu diiktibarkan sebagai dua sisi mata uang?

So, you want to be some one? Be some one!

hakcipta pada asharjunandar

sabtu malam, 22/12/2007.

Sesudah Menelurkan Karya Penyair Mati ?

Posted in Muhasyabah-Puisi on Desember 21, 2007 by asharjunandar

 

Sepucuk prologue: blalang_kupukupu dan musyahabah puisi

” Sesudah menelurkan karya, penyair mati”, begitulah kira-kira pusaran badai mitos yang begitu kuat mengepung dan menghuyung-huyungkan pokok fikiran penyair, umumnya di Indonesia. Meski banyak faktor yang menjadikan penimbang terpinggirkannya puisi dari dunia publik. Toh, sang maestro Chairil memang bersabda bahwa puisi atau sajak yang jadi adalah sebuah dunia. Dunia yang memiliki denyut dan gerak kehidupan sendiri.

Menilik buah pemikiran Tardji di Isyarat-nya, penyair juga, sebagai kreator dunia sajak jadi, tidak bisa tidak dan tak boleh lepas dari realitas. Sajak adalah dedahan-dedahan warna-warni realitas, baik yang mencengangkan ataupun yang sudah lazim hidup berlari-lari, di pemukiman masyarakat. Dengan kepiawaian sang penyair, warna-warni pelangi kehidupan itu, dieram dan dijadikan telur yang siap menetas dan menjelma seekor anak ayam. Pada tahap inilah penyair harus bekerja ekstra keras, hingga berdarah-darah. Lantas apakah anak ayam yang baru menetas tadi, dibiarkan saja berkeliaran sendiri ?

Menyimak geliat tubuh sejarah sastra tanah akhir beberapa dekade lalu sampai sekarang, umumnya, masyarakat acapkali berprilaku tidak adil sebagai juri untuk memposisikan sajak dan pesajak dibanding karya sastra lain. Sebut saja novel dengan novelisnya, cerpen dengan cerpenisnya. Meski mereka (syair, cerpen dan novel) lahir dari rahim inang sastra kandung yang sama, toh si novel dan cerpen lebih dimanja masyarakat di banding si syair.

Mengintai kupu-kupu sajak dengan warna-warni sayapnya yang unik dari balik semak-semak keingin-tahuan memang memiliki keasyikan tersendiri. Namun ini hanya berlaku bagi segelintir kecil kaum dari himpunan semesta masyarakat kita. Mereka lebih suka mencicipi produk sastra instan yang tidak rumit untuk dikunyah gigi, ditelan dan dicerna ususnya. Walau ini satu sudut pandang kacamata, maka tidaklah heran di tubuh masyarakat lebih banyak bertumbuhan bulu-bulu sajak semisal Taufik Ismail dan WS Rendra dibanding Sutardji ataupun Sapardi. Meski boleh untuk disimpulkan kalau mereka ini adalah penyair yang lahir dan hidup pada bentangan tangan waktu yang nyaris sama.

Tipe dan gaya kepenyairan yang mereka usung memang menunjukkan jarum kompas yang jauh berbeda. Taufik dan Rendra lebih banyak berkubang pada sajak-sajak pamflet yang dirasakan lebih menyuarakan lengkingan kerongkongan masyarakat yang sudah kering dan kepayahan meneriakkan nasibnya dibanding Tardji dan Sapardi yang sajak-sajaknya lebih bersifat kamar yang lebih sering memproklamirkan “Aku” pada larik-lariknya.

Citra sajak “Aku” yang sudah terlanjur dicap sebagai individualistis yang sangat angkuh dari penyair oleh masyarakat menajdikan maestro-maestro penganut aliran ini lebih terpinggirkan dibanding mereka yang mengusung syair mimbar. Meski ini adalah pilihan dari si penyair itu sendiri, tapi untuk dinamika masyarakat sekarang ini, ada baiknya penyair-penyair mimbar terutama kamar lebih membunyikan alat musik sajaknya yang sudah terlanjur dicap sunyi.

“Sesudah menelurkan karya, penyair mati” kiranya perlu dikikis perlahan-lahan dari benak masyarakat dan penyair itu sendiri, sehingga sajak dengan planet uniknya mampu disejajarkan kehadiran dan perannya di tengah ruang orbit publik. Dinikmati seluas-luasnya waktu, ruang dan disegala jenis kesibukan aktivitasnya.

Penyair yang langsung menafsirkan sajaknya bukanlah suatu dosa. Walaupun penikmat sajak banyak berhak untuk setuju, atau tidak setuju atau malah abstain dari nilai-nilai tafsir itu. Penyair memiliki kacamata sendiri, begitu juga mereka, mengantongi teropong sendiri pula.
Setuju atau tidakkah ?
Terserah Anda. Bukankah keputusan selalu diikhtibarkan sebagai dua sisi mata uang ?
Salam cipika-cipiki:)

dari TeropongPUISI:Musyahabah-Puisi KUPUKUPU

asharjunandar.wordpress.com