Kenangan Pada Seonggok Pendar Kunang-Kunang

Posted in ShorTime In HeaVen on April 17, 2009 by asharjunandar

Orang-orang rajim yang bergerombol atau sendiri-sendiri, yang mengacak malam karena melatai rawa likat dirinya; yang termangu bengkarung di punggung batu menakar laut seberang yang mulai memilin ujung pantai sumsum benua dadanya; yang bergegas menanak beras basah di belanga mentah; yang menancapkan pancang tenda menerka pendar unggun itu menyebar atau belum sampai ke lembah pemakaman. Seperti angin basil menuba udara, dari belukar semak aku mencuat perlahan sewajar tenggelam bulan. Kurasa mereka merasakan selintang bintang sedang turun berkenan, menciut dan bertambah ringan. Kurasa mereka terpukau pada tarian spiralku, makin tinggi mengerucut ikan, sekonyong-konyong menukik kemudi. Seperti manuver albatros, pendar tubuhku, di zona horizon kosong mereka, terbatun. Kurasa mereka menyigi rima ritualku yang benderang terkadang, tiba-tiba redup bahkan padam seperti tubuh yang hilang. Namun anginlah yang tengah menyamar udara yang paling lihai mengendus jejak, yang tak pernah setia bahkan dalam gelap, kurasa mereka menjadi kawanan anak serigala lapar dalam sarang induknya yang belum pulang. Taring mereka akan mengait dan mencabikku hidup-hidup. Di luar, gelap yang getah mengantukkan mereka dalam pori-pori uap, sedang pendarku mengenyangkan yang terpendam dalam likat rawa. Hai orang-orang rajim yang bergerombol atau sendiri-sendiri, betapa akut terang ini ingin mengunyahku, seawan bulu-bulu hitam kalian yang diam rebah, yang legam pasrah, yang malam kalah. Di sanalah, gelombang membiakkan nisan.

Kenangan Pada Segelondong Kepompong

Posted in ShorTime In HeaVen on April 8, 2009 by asharjunandar

Seperti kado ulang tahun bocah, aku telah dibungkus rapat guratan pita ungu: Savonarola, oh tahniah yang indah! Bagi kaki yang mulai tegak dari rangkak, aku tergelantung nyaris di pucuk puncak, dan lantai marmer datar, hai tulang dahan: curam menikuk tajam. Kapas nian hampar padang pada seutas plasenta aku terkenang. Yang menghasutku adalah musim menyusui keriputku yang lekang: Putuskanlah! Putuskan dalam melata pengembaraan. Kuingat, ke pucuk aku telah merayap. Dalam rekat lengang punggungku menguncup sepasang sayap. Akan mekar, niscaya mekar bak bisik yang menyentil bulu mata si bocah saat guratan pita ungu mulai diuraikan, siapa yang menjelaskan rumpun warnaku, betinakah atau jantan? Oh hampar arus yang melanglang ceruk semak bulu hidungku, risik lendir angin hanya memang: Riak-riak kala yang rembang terpanggang.

Kenangan Pada Seekor Kijang Betina

Posted in ShorTime In HeaVen on April 7, 2009 by asharjunandar


Dari pintu depan ke pintu yang terbuka, dalam tiap jengkal ayunan langkah, diam-diam jeda persidangan, yang buru-buru dikunci pintu ke pintu belakang. Udara padat dan aroma keringat, dari ranjang ke ranjang panggangan dan sahutan loceng yang hingar api di minggu basah, kini akulah yang paling diburu ujung panah gelisah dalam rebah. Anggun gemulai pijakanku paling rekah, terpancar mata kaki Aphrodite masih terpejam, bagai kijang aku diintai dan dikepung. Tanduk yang bercabang menjulang. Liat daging matang menantang, dari busur melesat anak panah dada mereka yang terguncang-guncang raungan lonceng parau di minggu basah. Kabar musim gugur mengguyur ranting belumlah terdengar pucuk rerumputan. Dan aku dalam kawanan malam: Delapan belas piala kabisat yang tinggi-tinggi diacungkan.

Just the Cover, all a bout

Posted in ShorTime In HeaVen on April 7, 2009 by asharjunandar

Oke, dari sinilah kita kupak. Dari sampul. Semua menguap. Tapi ini sampul dan kau pasti jatuh cinta. Kita sekarang zaman apa? Bandul? Telegraph? Atau Nokia ? Tapi ini perjalanan cinta. Seorang gadis, bayangkan tanpa busana selain tempelan kertas kuning kecil, penutup daerah payudara sampai 5 senti dari selangkangnya: 17 tahun plang iklan. Promosi cinta, bukan? Di ruang kerja. Komputer, puluhan julur lidah kabel, dan puluhan gelang hitam tergantung, seperti kalung bermata cincin, dan yang paling menakjubkan satu mata: mata kosong menantang. Sepasang kaki jenjang yang terhalang kaus kaki hitam tanggung. Untuk apa ini segala, dipotret rak-rak toko buku. Percayalah, untuk sebatas kau jatuh cinta pada pandangan pertama, ya, saksinya struk pembayaran itu, Bro. Setidaknya, kau tandaskan onani yang indah.

Lihat, tegak telunjukmu. Gelap yang tegap, bukan?! Akh, pembeli-penjual sekarang, memang semua bangsat!

Lapiazza

Posted in ShorTime In HeaVen on Maret 23, 2009 by asharjunandar

Lapiazza

: Veny

Metal detector mengingat-mengingat
sekian titik bunyi dan noktah merah
Dan kau mengerling tajam, padanya
Pada spot of god yang baru kau tangkap:
Bagaimana menuliskannya. Di notesmu
gambar jari gemetar, pias ampas coccolate ace,
setawar dinding kaca

Selingkar bundaran aspal tanpa lampu merah
dalam metal detector otakmu:
otot-otot sorot mobil menerobos
ringkih rintik-rintik detik jam putihmu

“Kau putih, sebagaimana kau benci:
matamu putih, sebagaimana barisan gigi,
hulu-lalang pasangan, pada asbak kertas
kotak kita jaring: tataplah aku”

Seperti pawai gaun, coraknya, warnanya,
mengalir deras ke tas-tas plastik hitam,
saat pintu-pintu etalase toko terkunci,
yang setia, kau tahu, hanya kurva patung

Bias figura colak mata kantuk
diseret pulang, penuntun
lapar yang menyuap gelas-gelas kosong

Di prisma kamar, lagi kau lempar
lembar-lembar persegi notesmu,

“Tentang chapter 11, sesi les kepribadian,
matamu, matamu kutanam blink di sana

Di sudut bangku panjang kalau kau sempat duduk
teduh menyalin gema loceng,
dan selengkung menara, ingatlah kataku
ingat lengkung alismu, tentang sabda bahagia:
Kerling huruf-huruf yang menata
kata: the spot of god, chapter pertama
kita: tataplah aku sebagaimana kutatap kau

Di ujung degup kita”

Ke Selatan yang Jauh

Posted in Sinopsis Musim Gugur on Februari 27, 2009 by asharjunandar

Keselatan yang jauh, kami akan menuju. Kami dengan helai-helai bulu kami, para betina kamiadalah lumbung, muara oase, matahari akar-akar ilalang. Ke selatan yang jauh, tercecer helai-helai bulu kami. Menebal empat tapak kaki kami, meretak tanduk-tanduk kami. Kami simpan angin dan hujan untuk budak-budak legam, untuk kalian, Ke selatan yang jauh, kami ikat biji-biji kelamin kami Kami tundukkan kepala-kepala kami, ke selatan yang jauh, Kami gigit lidah-lidah kami, kereta-kereta besar beroda empat kami kitari dalam tertib baris-baris kami Ke selatan yang jauh, sembelihlah kami di malam-malam bulan Panggang di tungku-tungku dan anggur tuangkan ke selatan yang jauh, kami selalu ingat rute pulang

The Last Snow

Posted in ShorTime In HeaVen on Februari 25, 2009 by asharjunandar

Seandainya kau tahu bagaimana aku dan yang lainnya berasimilasi

Tanpa harus mempertanyakan siapa diantara kami yang laki yang perempuan

Dengan sadar yang melingkar di luar kuasa kami, kami berkembang

Dan bangsa-bangsaku, dengan tanda fisik yang sama, ke bumi harus diturunkan

Tentu kau berterimakasih kepada tuhanmu, yang tak pernah kau tampak

Berterimakasih kepadaku dan beberapa ratus teman yang tanpa mempertanyakan

Mengapa harus hinggap di sela mantel hitam tebalmu,

Ketika malam setengah matang telah memasuki alam fikirmu

Kau rasakanlah kini dingin yang menebal dan bisu

Lewat hembusan udara dari saluran mulutmu dan dua siku tangan yang kau

Lekatkan ke dada, tangkaplah kehangatan yang ganjil

Dari rentetan pendaratan tubuh kami yang terlihat acak

Tersembunyi irama yang menggetarkan, yang telah berbunyi lama

Jauh di dasar ingatanmu

Ketika kami turun, bocah-bocah di taman yang dijaga sebatang akasia meranggas

Berteriak dalam girang “ salju, salju, salju”

Yang berselang lima menit kemudian, bahagia bocah itu direnggut

Panggilan ibu mereka, dari mulut jendela berdebu,

Dari pintu rumah yang telah terlalu lama terkunci dari dalam

Sebentar terkatup, untuk kemudian terkunci lagi

Seperti sebuah defenisi yang tertera jelas, menerangkan kata penjara

Di sebuah kamus bahasa kecil mereka