Radu Negru

Dikirim ShorTime In HeaVen pada Mei 8, 2009 oleh asharjunandar

Setelah cincin-cincin rantai terurai.
Kemudian putus. Dan wajah
menyeringai di balik topeng:
Segelar upacara bulan. Diam-diam, kau
tanggalkan lepah kayu. Dan menuruni
gunung. Suara siapa yang sayup-sayup
terdengar? Di balik lapis tembok tinggi retak.

Hilir pemakaman.

Dalam lapar sangar, di lorong-lorong tikus
angin terkapar. Siapa lagi yang mengejutkanmu
dengan dering kunci?
Dan perlahan mengelus pintu?

Panas utara yang mengukus tirai jendela.
Jendela kaca. Dan jari awan yang mencengkram.
Gelap. Sumur tua, dalam muak,
rapat-rapat menyumbat lubang hidungnya.

Inilah kota tanpa tuan. Gerbang
yang patah. Dan jalanan yang dikepung
semak ilalang. Persimpangan, masihkah
kau peram perempuan dan bocah
dalam kain gendongan, yang dua-duanya
kau kecup keningnya, dalam haru?

Dalam buntalan air mata, di pekarangan
belakang. Akasiakah yang hendak masih
kau tanam? Dan sepasang ayunan kayu
di dekat sudut barat pagar bunga?

Di hadapan meja dapur itu, selain termangu,
apa lagi yang ngiang di dinding kapur. Bilapun kau
dengar desis miris selinting tembakau.

Inilah kota yang tak bertuan. Dimana rindu ibu
berkhianat kepada pelukan.

Meskipun tawamu putih. Walaupun
senyummu lirih. Biarpun tangismu
perih. Dipilin angin. Di sini.
Lilinlah yang selalu mengabarkan
dingin. Dingin dinding. Merinding.

Anekdot Albuginea

Dikirim ShorTime In HeaVen pada April 29, 2009 oleh asharjunandar

Sekeluar surau ini, kukira. Di sanalah pasar teringar kita, pada tapal sandal yang hendak lekang. Pada tali jepitan yang mulai renggang: Apa yang tumpas atas ampas debu? Hilir mudik seseorang yang berdiri. Berujar: “Di mimbar, di mimbar….” Dan sila kita menghadap ambal: Putih yang putih sebagaimana putih. Tetaplah putih: Dinding dingin yang putih: Selepuh siar sabit ubun-ubun surau ini. Kukira di antara kita yang membeli pulut doa, lalu tungkai kaki ditimang-timang timbangan sandal bebal ini, yang paling riuh hanyalah desah yang lenguh di sela mayat daun bergelimpangan. Dalam cengap ceri matang : Camar buta meracik sarang di celah patahan dahan untuk anaknya. Pada gigir trotoar yang selumit liur, masih basah selinting hujan di pangkal paha. Dihijau kuduk perdu, angin masbuk akan terus membubus debu. Selecut mimik di luar pagar surau subuh ini, kukira mengurapi kurus tengkuk kita yang tandus. Yang kita duga: Kudus. Parau. Suara. Mengigau igau. Di luar pagar surau subuh ini.

Datos, Kapal Sutera

Dikirim ShorTime In HeaVen pada April 21, 2009 oleh asharjunandar

Sebab yang selamanya mengerling

adalah malam,

dan kau pada bingkai tetaplah Kau

yang termangu warta warna:

Selingkar lukisan kalung bermata rubi

Benua Barat. Ya, kusandarkan kapal

di celah dermaga. Dan segulung sutera

di hampar liat cermin basah:

Adakah lagi gelisah yang lebih rekah

antara redup,

dan desah yang menyusup hidup ?

Sebab yang selamanya retak

adalah malam. Digiring panah aku berburu

Dan busur yang meregangi tubuhku

Di matamu yang ombak,

tengah merumput rusa belia itu

pada tindik jendela. Kamar sekubik geladak

Kau tahu yang kau ingat sudah:

Selain desau keringat ,tak ada lagi

kemarau gerabah

Sebab yang selamanya mengerling

dalam gigil fajar memanggil

kemudian terguling, adalah malam berarak:

Ringking peluit menarik jangkar

Merangkak kapal

melayati lautan lahad gelap. Dalam bulan

retak

pada lajur-lajur angka,

yang juga tak bertapal. Matamu

yang ombak

Kenangan Pada Seonggok Pendar Kunang-Kunang

Dikirim ShorTime In HeaVen pada April 17, 2009 oleh asharjunandar

Orang-orang rajim yang bergerombol atau sendiri-sendiri, yang mengacak malam karena melatai rawa likat dirinya; yang termangu bengkarung di punggung batu menakar laut seberang yang mulai memilin ujung pantai sumsum benua dadanya; yang bergegas menanak beras basah di belanga mentah; yang menancapkan pancang tenda menerka pendar unggun itu menyebar atau belum sampai ke lembah pemakaman. Seperti angin basil menuba udara, dari belukar semak aku mencuat perlahan sewajar tenggelam bulan. Kurasa mereka merasakan selintang bintang sedang turun berkenan, menciut dan bertambah ringan. Kurasa mereka terpukau pada tarian spiralku, makin tinggi mengerucut ikan, sekonyong-konyong menukik kemudi. Seperti manuver albatros, pendar tubuhku, di zona horizon kosong mereka, terbatun. Kurasa mereka menyigi rima ritualku yang benderang terkadang, tiba-tiba redup bahkan padam seperti tubuh yang hilang. Namun anginlah yang tengah menyamar udara yang paling lihai mengendus jejak, yang tak pernah setia bahkan dalam gelap, kurasa mereka menjadi kawanan anak serigala lapar dalam sarang induknya yang belum pulang. Taring mereka akan mengait dan mencabikku hidup-hidup. Di luar, gelap yang getah mengantukkan mereka dalam pori-pori uap, sedang pendarku mengenyangkan yang terpendam dalam likat rawa. Hai orang-orang rajim yang bergerombol atau sendiri-sendiri, betapa akut terang ini ingin mengunyahku, seawan bulu-bulu hitam kalian yang diam rebah, yang legam pasrah, yang malam kalah. Di sanalah, gelombang membiakkan nisan.

Kenangan Pada Segelondong Kepompong

Dikirim ShorTime In HeaVen pada April 8, 2009 oleh asharjunandar

Seperti kado ulang tahun bocah, aku telah dibungkus rapat guratan pita ungu: Savonarola, oh tahniah yang indah! Bagi kaki yang mulai tegak dari rangkak, aku tergelantung nyaris di pucuk puncak, dan lantai marmer datar, hai tulang dahan: curam menikuk tajam. Kapas nian hampar padang pada seutas plasenta aku terkenang. Yang menghasutku adalah musim menyusui keriputku yang lekang: Putuskanlah! Putuskan dalam melata pengembaraan. Kuingat, ke pucuk aku telah merayap. Dalam rekat lengang punggungku menguncup sepasang sayap. Akan mekar, niscaya mekar bak bisik yang menyentil bulu mata si bocah saat guratan pita ungu mulai diuraikan, siapa yang menjelaskan rumpun warnaku, betinakah atau jantan? Oh hampar arus yang melanglang ceruk semak bulu hidungku, risik lendir angin hanya memang: Riak-riak kala yang rembang terpanggang.

Kenangan Pada Seekor Kijang Betina

Dikirim ShorTime In HeaVen pada April 7, 2009 oleh asharjunandar


Dari pintu depan ke pintu yang terbuka, dalam tiap jengkal ayunan langkah, diam-diam jeda persidangan, yang buru-buru dikunci pintu ke pintu belakang. Udara padat dan aroma keringat, dari ranjang ke ranjang panggangan dan sahutan loceng yang hingar api di minggu basah, kini akulah yang paling diburu ujung panah gelisah dalam rebah. Anggun gemulai pijakanku paling rekah, terpancar mata kaki Aphrodite masih terpejam, bagai kijang aku diintai dan dikepung. Tanduk yang bercabang menjulang. Liat daging matang menantang, dari busur melesat anak panah dada mereka yang terguncang-guncang raungan lonceng parau di minggu basah. Kabar musim gugur mengguyur ranting belumlah terdengar pucuk rerumputan. Dan aku dalam kawanan malam: Delapan belas piala kabisat yang tinggi-tinggi diacungkan.

Just the Cover, all a bout

Dikirim ShorTime In HeaVen pada April 7, 2009 oleh asharjunandar

Oke, dari sinilah kita kupak. Dari sampul. Semua menguap. Tapi ini sampul dan kau pasti jatuh cinta. Kita sekarang zaman apa? Bandul? Telegraph? Atau Nokia ? Tapi ini perjalanan cinta. Seorang gadis, bayangkan tanpa busana selain tempelan kertas kuning kecil, penutup daerah payudara sampai 5 senti dari selangkangnya: 17 tahun plang iklan. Promosi cinta, bukan? Di ruang kerja. Komputer, puluhan julur lidah kabel, dan puluhan gelang hitam tergantung, seperti kalung bermata cincin, dan yang paling menakjubkan satu mata: mata kosong menantang. Sepasang kaki jenjang yang terhalang kaus kaki hitam tanggung. Untuk apa ini segala, dipotret rak-rak toko buku. Percayalah, untuk sebatas kau jatuh cinta pada pandangan pertama, ya, saksinya struk pembayaran itu, Bro. Setidaknya, kau tandaskan onani yang indah.

Lihat, tegak telunjukmu. Gelap yang tegap, bukan?! Akh, pembeli-penjual sekarang, memang semua bangsat!

Lapiazza

Dikirim ShorTime In HeaVen pada Maret 23, 2009 oleh asharjunandar

Lapiazza

: Veny

Metal detector mengingat-mengingat
sekian titik bunyi dan noktah merah
Dan kau mengerling tajam, padanya
Pada spot of god yang baru kau tangkap:
Bagaimana menuliskannya. Di notesmu
gambar jari gemetar, pias ampas coccolate ace,
setawar dinding kaca

Selingkar bundaran aspal tanpa lampu merah
dalam metal detector otakmu:
otot-otot sorot mobil menerobos
ringkih rintik-rintik detik jam putihmu

“Kau putih, sebagaimana kau benci:
matamu putih, sebagaimana barisan gigi,
hulu-lalang pasangan, pada asbak kertas
kotak kita jaring: tataplah aku”

Seperti pawai gaun, coraknya, warnanya,
mengalir deras ke tas-tas plastik hitam,
saat pintu-pintu etalase toko terkunci,
yang setia, kau tahu, hanya kurva patung

Bias figura colak mata kantuk
diseret pulang, penuntun
lapar yang menyuap gelas-gelas kosong

Di prisma kamar, lagi kau lempar
lembar-lembar persegi notesmu,

“Tentang chapter 11, sesi les kepribadian,
matamu, matamu kutanam blink di sana

Di sudut bangku panjang kalau kau sempat duduk
teduh menyalin gema loceng,
dan selengkung menara, ingatlah kataku
ingat lengkung alismu, tentang sabda bahagia:
Kerling huruf-huruf yang menata
kata: the spot of god, chapter pertama
kita: tataplah aku sebagaimana kutatap kau

Di ujung degup kita”

Ke Selatan yang Jauh

Dikirim Sinopsis Musim Gugur pada Februari 27, 2009 oleh asharjunandar

Keselatan yang jauh, kami akan menuju. Kami dengan helai-helai bulu kami, para betina kamiadalah lumbung, muara oase, matahari akar-akar ilalang. Ke selatan yang jauh, tercecer helai-helai bulu kami. Menebal empat tapak kaki kami, meretak tanduk-tanduk kami. Kami simpan angin dan hujan untuk budak-budak legam, untuk kalian, Ke selatan yang jauh, kami ikat biji-biji kelamin kami Kami tundukkan kepala-kepala kami, ke selatan yang jauh, Kami gigit lidah-lidah kami, kereta-kereta besar beroda empat kami kitari dalam tertib baris-baris kami Ke selatan yang jauh, sembelihlah kami di malam-malam bulan Panggang di tungku-tungku dan anggur tuangkan ke selatan yang jauh, kami selalu ingat rute pulang

The Last Snow

Dikirim ShorTime In HeaVen pada Februari 25, 2009 oleh asharjunandar

Seandainya kau tahu bagaimana aku dan yang lainnya berasimilasi

Tanpa harus mempertanyakan siapa diantara kami yang laki yang perempuan

Dengan sadar yang melingkar di luar kuasa kami, kami berkembang

Dan bangsa-bangsaku, dengan tanda fisik yang sama, ke bumi harus diturunkan

Tentu kau berterimakasih kepada tuhanmu, yang tak pernah kau tampak

Berterimakasih kepadaku dan beberapa ratus teman yang tanpa mempertanyakan

Mengapa harus hinggap di sela mantel hitam tebalmu,

Ketika malam setengah matang telah memasuki alam fikirmu

Kau rasakanlah kini dingin yang menebal dan bisu

Lewat hembusan udara dari saluran mulutmu dan dua siku tangan yang kau

Lekatkan ke dada, tangkaplah kehangatan yang ganjil

Dari rentetan pendaratan tubuh kami yang terlihat acak

Tersembunyi irama yang menggetarkan, yang telah berbunyi lama

Jauh di dasar ingatanmu

Ketika kami turun, bocah-bocah di taman yang dijaga sebatang akasia meranggas

Berteriak dalam girang “ salju, salju, salju”

Yang berselang lima menit kemudian, bahagia bocah itu direnggut

Panggilan ibu mereka, dari mulut jendela berdebu,

Dari pintu rumah yang telah terlalu lama terkunci dari dalam

Sebentar terkatup, untuk kemudian terkunci lagi

Seperti sebuah defenisi yang tertera jelas, menerangkan kata penjara

Di sebuah kamus bahasa kecil mereka