Bila kemudian, gumpal goresan ini
yang mengiris segalanya, dan segala yang terbatun
di dadamu seperti gelepar daun aru
di semak batu, aku juga luruh. Kau tahu lidah
putri malu di ambang senja yang meradang,
begitu kejam mengiris-iris merah hati kita
sampai darah tercerai dari tetesan, seperti
kenangan kepada ingatan.
Maka aku pergi menyusup ke dalam sunyi
yang lebih gelap, ke dasar desir yang lebih
liat dan lindap. Juga yang mendenyutkan nadiku
yang rentan, dan jiwa, padang manakah yang paling
rimbun dari mereka? Bahkan tidak juga masing-
masing dari benua denyut kita. Entah, jika dengan ini surga
berkenan meluaskan pintunya, atau bila
juga kulewatkan surat ini, kutahu saat,
orang-orang yang kita kenal baik setengah
kenal kita juga, atau yang hanya menaruh
iba pada kisah hijau kita karena mereka bertelinga
dan telah berlalu cerita: kisah pengembara
yang ditinggalkan kereta malam di stasiun mimpinya.
Manusia begitu naif jika dinamai pendurhaka,
maka kutulis juga surat ini, di antara berat
air mata yang tetap kujaga di rongganya. Di antara
terang, temaram dan gelap yang purba,
hanyalah riak yang ingin kusimak,
risik-risik kecil masa benih kita yang jatuh
bagai rintik hujan, ketika mereka berkejaran di antara
langkah dan peron kereta, dan jeritan yang berulang
ulang; gema yang memanggil-manggil nama kita
dari balik kaca. Yang berdiri dan yang bersembunyi
di balik dinding batu. Layaknya barisan duri
di selintang tungkai dahan putri malu,
ketika kertas itu kau lipat, dan yang lekas
terkemas kembali adalah tumpukan baju
di balik pintu.